Sunday, August 23, 2015

Liburan Musim Panas 2015: Honshu, Shikoku, Kyushu dalam 14 hari (part 2)

Selama tiga hari di pulau Kyushu, saya dan hubby menginap di camping ground di kaki gunung Kuju, lalu pindah ke pulau kecil Nokama karena besoknya mau menyeberang ke Nagasaki. Sampai di Nagasaki masih siang, langsung menuju museum bom atom. Museumnya sangat keren dan mendokumentasi dengan baik tentang peristiwa bom atom tanggal 9 Agustus 1945 yang jatuh di kota ini, juga informasi lengkap dengan pengembangan teknologi bom atom yang saat ini sedang dikampanyekan untuk dihapus. 

Replika "Fatman", bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki

Buat yang hobi wisata sejarah, di Nagasaki juga ada Dejima, pulau buatan di jaman Edo (pemerintahan Shogun Tokugawa) untuk berdagang dengan Belanda selama 200 tahun. Saya baru tahu kalau hasil bumi kita saat dijajah Belanda selama 350 tahun banyak yang dibawa ke Nagasaki.

Di Nagasaki kita sengaja menginap di hotel di atas bukit supaya bisa menikmati pemandangan kota di malam hari, yang katanya termasuk night view terbaik di Jepang. 

View kota Nagasaki dari jendela hotel


Tiba saatnya meninggalkan pulau Kyushu kembali menuju pulau Honshu, menyetir 400an km dari Nagasaki ke Hiroshima. Sampai di Hiroshima sudah cukup sore, tapi masih sempat melihat-lihat kastil Hiroshima sambil mencari coin laundry. Saya dan hubby hanya membawa stok pakaian untuk seminggu, sedangkan kita traveling selama dua minggu. Apalagi saat musim panas baju jadi cepat bau keringat dan pengen sering ganti baju. Coin laundry jadi penyelamat untuk saat begini. 

Kita sengaja menginap dua malam di Hiroshima supaya bisa mengunjungi museum bom atom dan main ke pulau Miyajima dengan lebih santai. Mirip dengan museum di Nagasaki, museum di sini juga mendokumentasikan kejadian bom atom yang dijatuhkan di kota ini saat perang dunia kedua. Sayangnya sebagian gedung sedang direnovasi sampai tahun depan, jadi koleksi yang ditampilkan di sini terlihat lebih sedikit dibanding museum di Nagasaki. Untung mengunjungi kedua museum, jadi cerita yang diperoleh bisa komplit. Hehe, saya memang hobi mengunjungi museum, walaupun belum termasuk museum mania. Hobi yang kadang bikin si hubby sewot, tapi walaupun sewot dia tetap mau nemenin istrinya masuk keluar museum.

Memotret A-Bomb Dome, Hiroshima


Di Miyajima ada gerbang Tori raksasa yang seakan mengapung di atas laut. Awalnya sih kita berdua skeptis, menganggap pemandangannya akan begitu-gitu aja. Ternyata Miyajima tuh beneran cantik. Pantas saja dinobatkan jadi satu dari tiga pemandangan terbaik di Jepang. Apalagi kalau bisa melihat si gerbang Tori saat pasang naik dan saat pasang turun, terasa sekali beda feeling-nya. Disini juga bisa naik ke gunung Misen menggunakan ropeway. Pas banget saat itu lagi cerah, dari puncak gunung Misen bisa lihat pemandangan Seto Inland Sea, laut yang memisahkan pulau Honshu, Kyushu dan Shikoku. 


Tori Gate Miyajima saat high tide dan low tide

Lumayan puas jadi turis di Hiroshima, kita lanjut menuju Matsue di Shimane Prefecture. Di Matsue tak banyak yang dikunjungi kecuali kastil Matsue yang masih orisinil bukan rekonstruksi, sama kondisinya dengan saat dibangun tahun 1600an dengan struktur kayu. Di kanal sekitar kastil juga ada sightseeing boat, yang bapak pendayungnya sekalian jadi duta wisata Matsue dan jago menyanyi Enka (keroncong ala Jepang). Kota Matsue sendiri sih sepi, baca di wikipedia kota ini adalah ibukota prefektur dengan jumlah penduduk paling sedikit. Dan kota ini beneran sepi, di sekitaran stasiun tak banyak orang, bahkan di pusat kota tidak terlihat orang menyeberang jalan.

Kastil Matsue

Dari Matsue lanjut ke arah timur menuju Kinosaki Onsen via Tottori. Di Tottori tak lupa mampir ke gurun pasir terluas di Jepang, Tottori Sand Dune. Katanya gurun pasir ini terbentuk dari sedimen yang terbawa oleh sungai, dibantu oleh angin dan pasang surut air laut selama ribuan tahun. 

Gurun pasir di Tottori

Akhirnya menuju tujuan terakhir dari trip liburan panjang ini, ke Kinosaki Onsen. Begitu masuk kota langsung terasa suasana santai khas onsen resort. Banyak ryokan dan warung suvenir, dan orang lalu-lalang mengenakan yukata dan geta sambil menjinjing perlengkapan mandi. Di sini ada tujuh rumah pemandian air panas yang berdekatan. Pengunjung biasanya menginap di salah satu ryokan, dan dapat kartu pass untuk bisa masuk ke semua rumah pemandian. Saya dan hubby sempat nyobain berendam di empat onsen. Tiap habis berendam paling enak minum susu dingin. Lalu bersantai sejenak, dan bersiap untuk onsen lagi, hehehe. 

Onsen hopping di Kinosaki Onsen, Hyogo

Liburan Musim Panas 2015: Honshu, Shikoku, Kyushu dalam 14 hari (part 1)

Bulan Agustus artinya saatnya liburan musim panas!! Atau Natsu Yasumi dalam Bahasa Jepang. Buat anak sekolah di sini liburnya lumayan lama, sekitar 40 hari. Buat saya yang kerjaannya eksperimen di lab, bisa dapat liburan 2 minggu sudah bersyukur banget.

Untuk liburan kali ini, saya dan hubby keliling Jepang bagian barat. Dimulai dari Kyoto, lalu ke Kobe, lanjut menyeberang ke pulau Shikoku. Menyeberang lagi ke pulau Kyushu mengunjungi Oita, Kumamoto, dan Nagasaki. Lalu kembali ke pulau Honshu menuju Hiroshima, lanjut ke Matsue di Shimane, Kinosaki Onsen di Hyogo, dan kembali ke Kyoto.

Rute perjalanan: Tokyo - Kyoto - Kobe - Kochi - Dogo Onsen - Oita - Kumamoto - Nagasaki - Hiroshima - Matsue - Kinosaki Onsen - Kyoto - Tokyo

Total perjalanan 14 hari. Berangkat dari Tokyo ke Kyoto menggunakan Shinkansen. Sengaja menginap 2 malam di Kyoto, supaya puas berkunjung ke kuil-kuil terkenal di sini. Bahkan kita menginap di hotel yang berada di dalam komplek kuil Chion-in, dan sempat nonton acara sembahyang pagi para biksu. Lokasinya juga dekat dengan Higashiyama dan Gion. Jadi puas deh mengeksplor daerah ini. Tapi ya, Kyoto itu penuh turis! Kebanyakan turis asing. Dan kita berdua juga jadi berlagak jadi turis beneran.

Gion, Kyoto

Fushimi Inari Shrine, Kyoto

Dari Kyoto kita menyewa mobil selama 11 hari, sampai liburan berakhir. Dibantuin teman yang jago Bahasa Jepang mencarikan rental mobil yang murah dan dekat dari stasiun Kyoto. Kita dapat mobil Honda Fit di Orix Rental Car. Mobilnya keren dan baru, kilometer masih 1500km. Setelah dipake selama 11 hari langsung melonjak jadi 3500 km, hehe!

Dari Kyoto menuju Kobe, menginap semalam di sini. Setelah taruh mobil di parkiran hotel, lanjut keliling kota Kobe yang bisa dicapai dengan jalan kaki. Sempat sholat di masjid Kobe, masjid pertama yang didirikan di Jepang. Tak ketinggalan nyobain Kobe Beef yang enaknya bikin merem melek. Dagingnya lembut dan juicy, langsung dimasak di depan kami ala tepannyaki.

Kobe Beef Restaurant

Besoknya petualangan sebenarnya dimulai. Saya dan hubby menyeberang ke pulau Shikoku melewati Pearl Bridge, jembatan panjang yang menghubungkan pulau Honshu dan pulau Awaji, lalu jembatan berikutnya dari Awaji ke pulau Shikoku. Tujuan utama di pulau Shikoku adalah main air di sungainya yang terkenal jernih dan banyak. Kita berdua mencoba rafting dan canyoning di sungai Yoshino. Dan sungai ini beneran keren sekali, airnya seger dan jernih banget. Kita menginap di camping ground di atas bukit, dengan pemandangan bagus dan ada kincir angin. Jenis Auto-Camp atau mobil bisa diparkir persis di sebelah tenda. Fasilitasnya lengkap, ada toilet, shower, coin laundry dan dryer. Di dekat tenda juga disediakan sink, supaya gampang cuci-cuci peralatan makan.

Rafting di Sungai Yoshino

Camping ground di Kochi, Shikoku.


Setelah penuh petualangan selama dua hari,  lanjut ke Dogo Onsen, onsen resort tertua di Jepang. Di sini ada rumah pemandian air panas yang terkenal beberapa kali dikunjungi kaisar. Di sekitaran rumah pemandian banyak hotel dan toko suvenir, juga turis Jepang yang berkeliaran mengenakan yukata dan bawa perlengkapan mandi.

Beryukata di Dogo Onsen Honkan

Segitu dulu petualangan di pulau Shikoku. Berharap bisa lebih lama di sini, tapi pulau Kyushu sudah menunggu untuk dieksplor juga. Dan ternyata Kyushu juga nggak kalah indahnya. Terutama saat kita melewati Kuju Aso National Park, di sekitaran gunung Kuju dan gunung Aso. Kontur daerahnya banyak plateu dengan padang rumput luas. Daerah ini juga terkenal dengan peternakan sapi Bungo Beef, yang dagingnya nggak kalah enak dengan Kobe Beef.

Bungo Beef di Bebengo, Oita-ken, Kyushu

Kuju-Aso National Park, Kyushu

Friday, January 2, 2015

New dream 2015

Kata orang kalo punya impian sebaiknya dituliskan supaya kemungkinan terkabul lebih besar. Heheh.. ngarang. Tapi setidaknya buat diinget2, masih banyak keinginan yg blm tercapai. Jadi nggak terbuai bermalas diri.

Ok, langsung saja, ini hal2 yg harus terlaksana di tahun baru 2015:

1. Rajin bangun pagi. 
Asli saya paling malas bangun pagi. Apalagi jarak apato ke kampus cuma 5 menit sepedaan. Jadi berangkatnya beneran 9.55, karena lab mulainya jam 10.00.
Mulai sekarang harus memaksakan diri bangun pagi, supaya ke kampus ga buru2. Syukur2 biasa bikin sarapan yg lebih sehat, atau bisa sempet joging dulu sebelum mandi.

2. Lebih rajin belajar.
Intinya sih harus bisa mengatur waktu kerja di lab. Nggak melulu eksperimen tapi malah nggak sempat belajar baca2 paper. Kalo belajar dari paper seminar di lab ngga usah diharapkan, nggak ngerti yg presentasi ngomong apaan. Mending belajar sendiri aja.

3. Publikasi.
Ini harus! Wajib! Kalo nggak ya susah lulus S3. Makanya baca, baca, baca, nulis, nulis, nulis!!

4. Makanan sehat.
Rutin stok buah dan sayur. Rajin sarapan. 

5. Rutin olah raga.
Lagi winter begini bikin males olah raga. Jangankan jogging yg memang dingin banget, buat ke gym aja rasanya maleeess bgt sepedahan kedinginan ke tempat gym kecamatan. Padahal jaraknya cuma 1 km dari rumah.

6. Hiking.
Akhir2 ini saya ketagihan hiking. Ngga harus ke tempat yang jauh, karena di sekitaran Tokyo juga banyak rute hiking yg menarik dan gampang aksesnya. Sebisa mungkin kalau weekend cuaca cerah ya berarti jadwalnya hiking. List tujuan hiking sih udah lengkap, tinggal eksekusinya aja. Gearnya apalagi, haha, udah sering bolak balik shopping ke Jinbocho, surganya perlengkapan outdoor.  Yah biar nggak malu-maluin banget kostumnya kalo dibanding para hikers jepun yg all set, lengkap dari kepala sampe ke kaki dengan gear mahal. Nunggu cuaca agak lebih hangat. Mungkin bulan Maret udah saatnya berkeliaran lagi ke pegunungan sekitaran Kanto.

Udah segitu aja, nggak mau muluk2. Intinya sih mau hidup lebih sehat biar bisa menikmati hidup dengan maksimal.