Lagi-lagi saya tidak bisa rutin menulis di blog ini.
Ternyata jadi mahasiswa doktor itu sangat menguras tenaga dan pikiran,
sampai-sampai untuk mengupdate blog ini ini pun tidak sempat. Kalau ada waktu
luang, saya lebih memilih untuk bermalasan di apato. Kadang saya dan hubby juga
memasak. Dan ternyata memasak makanan favorit, apalagi memasak berdua lebih
bisa melepaskan stress daripada menulis blog.
Saat weekend kita berdua masih menyempatkan diri jalan-jalan
menikmati kota Tokyo. Terutama saat musim gugur, Tokyo sedang cantik-cantiknya
dengan warna daun ginko yang menguning, dan daun momiji yang merah menyala.
Tahun ini kita menikmati pemandangan musim gugur dengan
menyusuri Tokyo menggunakan sepeda dari satu taman ke taman lainnya. Sebenarnya
tidak harus ke taman, pemandangan sepanjang jalan pun sudah sangat cantik.
Banyak ruas jalan di Tokyo yang ditanami pohon ginko, yang daunnya dijadikan
lambang kota Tokyo.
Pohon ginko yang menguning banyak terlihat di pinggir jalan
Ada dua taman terfavorit yang kita kunjungi saat musim gugur
tahun ini. Yang pertama: Kitanomaru koen. Lokasinya di sebelah utara imperial
palace. Dari apato, saya hanya perlu menggowes sekitar 20 menit. Taman ini
punya satu lokasi yang penuh dengan pohon momiji. Jadi, saat musim gugur, satu
bagian taman itu merah menyala. Enaknya di sini orang tidak begitu ramai. Masuknya
juga gratis. Komplit deh, makanya jadi taman terfavorit
2013.
Momiji di Kitanomaru Koen
Taman kedua, masih gratis juga masuknya, adalah Yoyogi koen.
Lokasinya dekat dengan Harajuku. Sejak pertama ke Tokyo saya sudah pernah ke
sini, yang tujuannya ke Jinja Meiji Jingu yang termasuk Jinja (kuil agama
Shinto) terbesar di Tokyo. Tapi baru tahun ini saya masuk ke bagian lain dari
taman, yang banyak sekali ditanami pohon momiji dan ginko, dan membuat taman
ini sangat cantik di musim gugur. Yoyogi koen lebih ramai dan luas. Sering
dijadikan tempat ngumpul dan piknik oleh banyak orang. Yang nongkrong sambil main
musik juga banyak. Kalau dari apato saya lumayan jauh, jaraknya sekitar 8 km,
jadi kita harus menggowes ke sana sekitar 1 jam.
Yoyogi Koen
Saya juga sempat ke Nikko bersama teman. Tujuannya ingin
melihat pemandangan perbukitan yang berwarna kuning merah di sekitar danau
Chuzenji, salah satu spot musim gugur yang terkenal cantik di Nikko. Bukannya bisa
menikmati pemandangan, kita malah terjebak macet 4 jam di dalam bus yang
menghubungkan stasiun Nikko dan danau Chuzenji. Masih untung kita sempat naik
ropeway dan melihat pemandangan Nikko dari atas bukit. Setelah itu, kami
buru-buru pulang untuk mengejar kereta ekspres terakhir, sampai memutuskan
jalan kaki karena bus yang ditunggu masih terjebak macet. Dan ternyata kereta
express sudah full booked. Terpaksa harus menerima nasib naik kereta lokal
kembali ke Tokyo. Yah sudahlah, memang beginilah kalau sedang puncak musim
gugur. Apalagi saat itu sedang long weekend juga.
Ropeway di Chuzenji Lake, Nikko
Sebenarnya tahun ini saya sendiri ingin ke Kyoto juga,
meihat cantiknya musim gugur di sana. Tetapi karena pengalaman di Nikko
kemarin, saya sudah kapok. Kapok untuk pergi ke tempat yang sudah terkenal
bagus, karena semua orang pasti ingin kesana pada saat musimnya.
Banyak yang bilang kalau orang Jepang terlalu berlebihan
dalam merayakan setiap musim. Contohnya ya musim gugur ini. Semua orang ingin
liat momiji. Pas musim semi, semuanya ingin hanami di bawah pohon sakura.
Sedangkan kalau musim panas, orang berbondong ingin menonton pertunjukan
kembang api.
Atau, bisa jadi juga karena penduduk Jepang yang sangat
padat, terutama di Tokyo. Jadi setiap ada event, sepertinya semua penduduk kota
tumpah ruah di sana. Padahal sebenarnya nggak juga. Tapi, hanya dengan
sepersekian dari penduduk kota yang datang, sudah membuat tempat acara itu
penuh sesak.
Tapi memang ya, setiap musim di Jepang ini memang cantik,
dengan kekhasannya masing-masing. Sekarang ini musim gugur sudah mau habis. Pohon-pohon
yang tadinya warna warni sudah mulai gundul Udara makindingin, dan saya jadi makin malas
kemana-mana.
Selamat datang musim dingin. Sepertinya sudah saatnya untuk
merencanakan ski trip ke Nagano J
Ini blog sudah berbulan-bulan terbengkalai. Postingan
terakhir tentang trip ke Nagano di musim dingin. Dan sekarang sudah musim panas
aja.
Setelah dari Nagano sebenarnya saya dan hubby sempat
jalan-jalan ke beberapa tempat selama musim semi. Terutama untuk melihat bunga sakura.
Tapi ya begitulah, nggak sempat ditulisin. Sok sibuk :P
Musim panas ini saya dapat jatah liburan yang lumayan lama.
Kesempatan ini kami gunakan untuk merencanakan liburan selama seminggu ke
tempat yang agak jauh, yaitu ke Hokkaido, tempat liburan favorit saya di
Jepang.
Karena bersamaan dengan liburan Obon, saatnya orang Jepang
mudik ke kampung halaman, perjalanan ini jadi agak ribet persiapannya. Tiket
kereta banyak yg sudah sold out. Hotel juga penuh. Untung hotel untuk empat
hari pertama sudah saya cicil pesan via booking.com (sejauh ini jadi website
favorit untuk pemesanan hotel). Sedangkan 3 hari berikutnya baru diputuskan
beberapa hari sebelum berangkat. Ya terima nasib selama 2 malam menginap di
pension sederhana yang harganya sudah mahal. Sedangkan untuk malam terakhir
kami berdua menginap di camping ground, pengalaman yang seru banget. Detailnya
akan saya ceritakan di postingan terpisah.
Secara umum perjalanan kami dari Tokyo, saya dan hubby
berangkat ke Hokkaido menggunakan shinkansen (bullet train) menuju Shin-Aomori.
Lalu menyeberang ke Hokkaido dengan kereta Super Hakucho yang melewati
terowongan bawah laut Seikan Tunnel menuju Hakodate. Menginap semalam di
Hakodate, trus lanjut ke Otaru, berikutnya ke Sapporo, Biei, dan terakhir
Furano.
Untuk transportasi selama di Hokkaido kita berdua
menggunakan kereta, yang jadwalnya sangat jarang dibandingkan dengan jadwal
kereta di Tokyo. Sempat berencana menyewa mobil supaya perjalanan lebih nyaman
dan fleksibel. Tapi gara2 hubby gagal ujian SIM seminggu sebelum berangkat.
Jadi terpaksa deh pakai kereta.
Kereta lokal di Ikutora
Tapi sepertinya gagal ujian
SIM ini jadi berkah juga, karena kita jadi punya pengalaman menikmati
bermacam kereta di Hokkaido. Mulai dari super express yang nyaman mirip
shinkansen, sampai kereta lokal yang gerbongnya cuma satu, dan masinis kereta
sekalian jadi petugas tiket. Stasiun kereta juga nggak semuanya ada petugasnya.
Dan lokasinya pun ada ditengah persawahan.
Dari semua tempat yang kita kunjungi di Hokkaido kemaren,
Biei dan Furano jadi tempat favorit saya. Otaru juga bagus banget sebagai kota
pelabuhan dengan kanalnya yang cantik. Di Sapporo lebih untuk istirahat dan
makan, karena hotelnya lebih murah di banding tempat lain di Hokkaido.
Sedangkan di Biei kita keliling menggunakan sepeda sewaan menikmati pemandangan
alam yg cantiknya kebangetan seperti di lukisan. Lalu yang terakhir di Furano,
tepatnya di Minami Furano (Furano Selatan) saya dan hubby sempat mencoba
rafting di sungai yang super jernih, lalu leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan
di camping ground di pinggir danau Kanayama.
Biei and Furano: the most beautiful villages in Japan
Perjalanan kembali ke Tokyo sempat jadi masalah karena
bersamaan dengan arus balik liburan Obon. Jangankan kereta, kapal pun semua
tiketnya sudah penuh. Dan akhirnya kami menumpang pesawat AirAsia Japan dari
bandara Shin Chitose menuju Narita. Di bandara suasananya juga chaos dengan
penumpang yang overload.
Seminggu di Hokkaido sebenernya belum puas. Kemaren tidak
sempat ke Shiretoko di paling timur Hokkaido. Juga kita juga ingin mengunjungi
Wakkanai, poin paling utara di Jepang, yang sedikit lagi nyebrang bisa sampai
ke Rusia (kalau punya visa).
Sebenarnya
kalau sudah memasuki musim dingin jadi malas kemana-mana, terutama buat manusia
tropis seperti saya. Walaupun musim dingin di Tokyo jarang saljunya, tapi
dinginnya nggak kalah sama wilayah Jepang lainnya. Plus anginnya yang wuzz
wuzz! Sudah pakai heat tech dan jaket
sekian lapis juga tetap menggigil. Dan saya jadi kebiasaan menyetok kairo di saku jaket (pemanas sekali
pakai) atau ditempel di telapak kaki.
Jarangnya
turun salju di Tokyo ini juga bikin saya agak sebal. Masa hanya kebagian
dinginnya aja. Salju dong, salju! Biar pemandangannya kayak di film-film gitu.
Hampir tiga bulan musim dingin, baru sekali salju turun di Tokyo di pertengahan
Januari kemarin. Saljunya cukup parah dan membuat repot semua orang. Sepertinya
warga Tokyo memang punya ‘love-hate
relationship’ dengan salju. Sumringah kalau salju datang, tapi benci dengan
efeknya yang bikin semua orang jadi susah ngapa-ngapain. Banyak kereta yang
nggak jalan, mobil yang tergelincir, atau jalan kaki jadi gampang terpeleset.
Saat hujan salju, di jalan depan apato
Tapi
sayangnya, waktu badai salju ini suami sedang tidak di Tokyo. Dia cuma bisa lihat
sisa-sisa salju di pinggir jalan seminggu setelahnya. Agak kecewa sih, tapi ya
nggak kecewa-kecewa banget karena kita sudah merencanakan perjalanan singkat ke
Nagano, daerah pegunungan sekitar 220 km ke utara, dimana kita bisa liat salju
sepuasnya di sana.
Tujuan
utama kita ke Nagano adalah melihat monyet salju yang suka berendam di kolam
air panas. Dulu pernah baca artikelnya di majalah National Geographic, lupa
entah edisi kapan. Di seluruh dunia, hanya monyet-monyet di Jepang yang suka
berendam di kolam air panas (onsen). Sepertinya didukung oleh kondisi geografis
Jepang punya banyak gunung api dan sumber air panas alami. Mungkin nenek
moyangnya monyet disini pernah yang coba berendam, keenakan, dan jadi keterusan
sampai sekarang.
Monyet berendam di Jigokudani Yaen-koen
Lokasi
monyet onsen ini namanya Jigokudani Yaen-koen, atau Jigokudani Monkey Park.
Jigokudani sendiri artinya lembah neraka, karena situasinya menurut orang-orang
sini seperti neraka: curam dan banyak sumber air panasnya. Untuk mencapainya,
dari stasiun Tokyo kita berdua naik Asama Shinkansen menuju Nagano (7770 yen,
perjalanan 100 menit). Tiket shinkansen kita beli on the spot, tanpa reserve
seat. Untuk menjamin dapat seat yang nyaman, kita udah antri di line gerbong
unreserved sebelum keretanya datang. Untung juga kereta ini stasiun awalnya di
Tokyo, jadi kemungkinan untuk dapat tempat duduk lebih besar. Sedangkan kalau
saja kita naik dari stasiun Ueno, kayaknya tempat duduk sudah penuh. Bahkan di
stasiun pemberhentian berikutnya seperti Takasaki, masih banyak penumpang yang
naik dan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk lagi.
Sampai
di stasiun Nagano, kita ganti kereta ekspres Nagano Dentetsu menuju Yudanaka
(1130 yen, 74 menit). Kereta ekspres ini masinisnya tidak ada di depan atau
dibelakang, tapi di bagian tengah kereta. Sedangkan dibagian depan dan belakang
jendelanya didesain agar penumpang dapat menikmati pemandangan secara maksimal.
Sepertinya kereta ini ditujukan untuk turis yang mengunjungi Yudanaka yang
punya banyak objek wisata. Tidak hanya monkey park, tapi juga Yamanouchi-machi
dan Shibu onsen yang terkenal dengan wisata onsen dari zaman dulu. Dan disini
juga ada ski resort terbesar se-Jepang, yaitu Shiga Kogen yang pernah digunakan
dalam olimpiade musim dingin tahun 1998.
Poster olimpiade musim dingin 1998, stasiun Nagano
Begitu
sampai di stasiun Yudanaka kita berdua jalan kaki menuju ryokan (hotel
tradisional Jepang), yaitu Shimaya ryokan yang jaraknya sekitar 400 meter dari
stasiun. Ryokan ini dipilih karena harganya yang relatif murah dibanding ryokan
sejenis, dan dapat review yang bagus di tripadvisor (14000 yen, tatami room
untuk 2 orang dengan private bathroom). Pemiliknya Yumoto-san mengurus sendiri
ryokan ini bersama istrinya. Bapak ini selalu sibuk kemana-mana mengantar tamu,
walaupun tidak diminta oleh tamu tersebut. Tiap ada yang terlihat mau keluar
dari ryokan, langsung ditanya, “Where are you going? I will take you!” Bahasa
Inggrisnya lumayan lancar untuk standar orang Jepang.
Shimaya ryokan, Japanese style sroom
Setelah
menaruh tas, saya dan suami langsung menuju monkey park, tentu saja diantar
oleh Yumoto-san. Bapak ini sudah seperti sopir pribadi untuk setiap tamu yang
menginap di ryokan nya. Seru sih, walaupun kadang kita jadi terburu-buru karena
tugas dia selanjutnya (mengantar tamu lain tentunya) sudah menunggu.
Ternyata
lokasi monkey park cukup jauh dari ryokan. Dari stasiun Yudanaka sebenarnya ada
bus, tetapi jadwalnya hanya 1 atau 2 bus tiap jam. Untung banget deh dianterin
sama Yumoto-san. Kita diantar sampai gerbang monkey park, dan melanjutkan
perjalan dengan jalan kaki sejauh 1,6 km. Jalannya berupa jalan setapak
melewati hutan pinus. Di kiri kanan penuh salju. Kebetulan hari itu salju turun
walaupun tidak deras.
Di depan gerbang menuju monkey park
Butuh
waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi kolam onsen yang diisi oleh
monyet-monyet berendam. Sesampainya di lokasi, orang-orang sudah banyak yang
berdiri mengelilingi kolam air panas yang penuh dengan para monyet yang
berendam. Pengunjung sibuk memotret para monyet. Anehnya, monyet-monyet ini
seperti tidak peduli dengan banyaknya manusia. Mereka cuek dan lanjut berendam
dengan nikmatnya. Mau disorot sedekat apapun dengan kamera mereka tidak peduli.
Monkey onsen dan fotografer
Karena
cuaca yang super duper dingin, setelah sekitar 45 menit, saya protes supaya
suami menyudahi sesi pemotretannya. Kita balik jalan kaki ke gerbang untuk
makan tempura soba. Nikmat banget rasanya lagi kedinginan begini makan tempura
soba yang hangat. Lalu tak lama Yumoto-san menjemput dengan mobilnya untuk
kembali ke ryokan.
Ke
Yudanaka kurang sreg rasanya kalau tidak mencoba berendam di salah satu kolam
air panasnya, atau onsen. Disini onsen tidak hanya untuk monyet, tapi juga
untuk manusia. Konon sejak zaman samurai dulu, daerah ini sudah terkenal jadi
tujuan wisata onsen. Tempat onsen yang ada sekarang ini banyak diantaranya yang
sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Oya, berendam di onsen ala jepang
semua pengunjung wajib bugil 100%. Berhubung suami ogah berbugil ria dengan
orang asing, Yumoto-san merekomendasikan tempat onsen outdoor yang punya kolam
privat. Dan lagi-lagi diantar sendiri oleh si Bapak. Sungguh pengalaman onsen
ini tiada duanya deh. Kolamnya outdoor, di tempat tinggi seperti diatas tebing,
jadi kita bisa menikmati pemandangan pedesaan ke bawah sambil berendam dan kena
hujan salju. Kita pesan onsen ini selama 50 menit seharga 2500 yen buat berdua.
Tidak begitu mahal juga, karena untuk onsen umum, perorang bayar 1000 yen. Pada
saat di jemput oleh Yumoto-san, kita minta diturunkan di warung sushi tak jauh
dari ryokan untuk makan malam.
Private outdoor onsen
Hari
kedua di Yudanaka. Dimulai dengan sarapan ala Jepang di restoran ryokan.
Sarapan ini tidak termasuk di biaya kamar, jadi perorang kita harus bayar 1200
yen. Atau bisa lebih murah kalau pesan western breakfast dengan menu
roti-rotian. Sarapan ala Jepang memang khas banget. Menunya beragam dengan
porsi kecil-kecil. Mulai dari nasi, ikan, sup miso, acar, buah, dll. Kenyang
banget.
Selanjutnya
kita berdua tidak punya rencana khusus. Hanya mau keliling menikmati
pemandangan kota. Yumoto-san mengantar kami ke Shibu-onsen, tak jauh dari
ryokan, dimana juga banyak terdapat onsen. Disini suasanya lebih eksotik. Ada
puluhan onsen yang bersebelahan satu sama lain, dihubungkan oleh jalan-jalan
kecil. Tamu yang menginap di daerah ini umumnya suka onsen hopping, atau
berendam dari satu onsen ke onsen lainnya. Saya dan suami hanya berkeliling,
mengambil foto, dan mampir di beberapa toko yang menjual kue-kue manis ala
jepang atau wagashi.
Shibu-onsen
Dari
shibu onsen, kita mampir ke kuil yang ada patung besarnya. Entah ini patung
apa, sepertinya kannon atau di Indonesia dikenal dengan nama dewi kwan im.
Setelah foto-foto dan membuat kehebohan dengan membunyikan lonceng besar
disana, kita berdua balik ke ryokan dengan jalan kaki.
Liburan singkat yang
mengesankan. Mudah-mudahan bisa balik kesini saat musim gugur nanti untuk
menikmati musim panen apel, karena waktu keliling kota dan sepanjang perjalanan
kita banyak sekali melihat perkebunan apel. Dan tentu saja mencoba lagi private
onsen outdoor yang sangat nikmat itu.
Ini video perjalanan ke Nagano kemarin, yang diupload di Youtube.
Musim gugur di Jepang adalah kesempatan menikmati
pemandangan perubahan warna daun (koyo), dari hijau jadi kuning atau merah
sebelum akhirnya berguguran. Tahun ini musim gugur datang terlambat sekitar 2
minggu dari biasanya. Alasannya kenapa, saya nggak tau jelas. Mungkin ada
dibahas di tv, tapi maklumlah 8 bulan tinggal di Tokyo saya masih saja bisu
tuli, nggak bisa ngomong dan nggak ngerti omongan orang-orang disini.
Dua tanaman yang paling mencolok perubahan warna daunnya
adalah pohon ginko dan momiji. Di seluruh Jepang banyak tempat yang bisa jadi
spot cantik untuk menikmati koyo, yang umumnya didominasi oleh kedua tanaman
ini. Info tempat yang direkomendasikan untuk menikmati koyo bisa dilihat disini.
Daun momiji yang mulai memerah
Pengen banget bisa mengunjungi semua tempat yang ditulis di
link itu. Yah dicicil deh satu persatu. Mulai dari yang dekat-dekat dulu. Tahun
ini saya cukup puas bisa menikmati koyo di 3 dari koyo spot yang ditulis disana.
1. Oze national Park
Trip ke Oze ini masih bersama teman-teman yang sebulan
sebelumnya bareng ke Hokkaido, ditambah beberapa orang lainnya. Lokasinya di
Gunma, sekitar 150 km sebelah utara Tokyo. Karena cukup jauh, kami menyewa
mobil dari Tokyo supaya bisa lebih leluasa mengatur waktu perjalanan.
Oze terletak didataran tinggi (1400 mdpl), jadi koyo disini
bisa dilihat lebih awal dibanding di Tokyo. Waktu kesana di akhir Oktober 2012,
warna daun sudah berubah dan lagi cantik-cantiknya kuning dan merah. Kalau
lebih telat dari itu, mungkin sebagian besar daun sudah mencoklat dan gugur.
Mobil kami parkir di Tokura, kemudian lanjut ke
Hatomachitoge dengan menumpang bus yang khusus untuk pengunjung yang ingin
masuk ke Oze National Park. Mau menyetir sendiri sampai ke pintu masuk national
juga bisa, tapi kondisi jalan cukup berbahaya dengan banyak belokan tajam dan
jurang terjal.
Petualangan di national park dimulai dengan menyusuri
hiking trail yang disediakan dua jalur, supaya pengujung yang beda arah (masuk
dan keluar) bisa jalan dengan nyaman tanpa bertabrakan.
Jalur hiking di Oze National Park
Kami berjalan sekitar 1 jam untuk sampai ke Ozegahara
Marshland. Tanah rawa ini selalu cantik di setiap musim. Di musim gugur,
tanaman di rawa berwarna cokelat, dan dari kejauhan dapat dilihat warna warni
pohon dengan latar belakang gunung Hiuchigatake. Disini disediakan beberapa
tempat untuk duduk-duduk menikmati pemandangan dan berfoto.
Ozegahara Marshland di Oze National Park
2. Taman Rikugien, Komagome Tokyo.
Menikmati koyo berikutnya saya sudah ditemani suami yang
mulai ikut tinggal di Tokyo. Yess, makin seru dan romantis :D. Sekalian kesempatan
mengunjungi tempat-tempat cantik di Tokyo. Kalau sendirian agak malas yaa. Mau
ngajak teman, kadang minatnya nggak sama.
Dimulai dengan mengunjungi taman yang dekat dari apato yaitu
taman Rikugien, dan ternyata taman ini ada di list koyo spot tercantik di
website japan-guide. Lokasinya cuma 2 stasiun dari apato. Taman Rikugien
termasuk taman tercantik se-Jepang, selain Koishikawa Korakuen (koyo spot nomer
3 di postingan ini) yang juga deket banget dari rumah. Hohoho, senangnya tinggal
dekat dengan taman-taman cantik.
Menurut sejarahnya taman Rikugien ini dibuat oleh daimyo
(pemimpin jaman dulu, posisi di bawah shogun) yang tinggal disana. Awalnya
lansekapnya hanya berupa tanah datar, lalu kemudian digali-timbun (cut and fill)
sampai terbentuk taman yang berbukit dan ada kolamnya. Tanaman disini diatur
dengan style tradisional jepang.
Taman Rikugien
Khusus selama musim gugur, di Rikugien ada light up (ライトアプ)
begitu cuaca jadi gelap. Pohon-pohon yang ada di sana di terangi dengan lampu
sorot dari bawah. Cantik sih, tapi butuh semangat ekstra karena suhu yang makin
dingin di malam hari.
Light up taman Rikugien
3. Taman Koishikawa Korakuen
Salah satu taman tercantik se-Jepang juga, dan hanya 10
menit sepedaan dari apato. Cinta banget deh sama taman ini. Lokasinya dekat
dengan Tokyo Dome (stadion baseball) yang mencolok dengan atap putih bundar dan
besar.
Pemandangannya kurang lebih sama dengan Rikugien, ada kolam
dan lahan yang berbukit-bukit. Dibangun di zaman edo oleh kerabat shogun
Tokugawa. Dengan banyaknya momiji, taman ini memang paling cantik disaat musim
gugur. Tetapi sakura juga lumayan banyak, jadi waktu musim semi nanti harus
kesini lagi untuk menikmati mekarnya sakura.
Taman Koishikawa Korakuen
Daun momiji gugur berserakan di walking trail
4. Kampus University of Tokyo (Todai)
Kalau yang ini sih bonus, bisa dinikmati setiap hari selama
pohon gingko yang banyak ditanam di lingkungan kampus sedang berubah warna jadi
kuning. Kayaknya hampir tiap hari saya berhenti sebentar di ginko avenue dekat
gerbang utama untuk memotret menggunakan kamera iphone. Kalau suami ikut makan
siang bareng di kampus, dia sempetin bawa kamera juga, dan motret sampai memori
cardnya penuh.
Pohon ginko yang menguning di kampus University of Tokyo
Dibanding musim semi, menurut saya kampus Todai lebih cantik
di musim gugur karena jumlah pohon ginko lebih banyak dibanding sakura. Mungkin
karena itu logo Todai adalah dua helai daun ginko.
Waahhh
sudah hari ketiga nih di Hokkaido. Saya dan tiga teman lainnya sudah dalam
perjalanan ke Taman Nasional Disetsuzan. Menurut japan-guide.com, taman
nasional ini termasuk yang paling alami, dan gunung Asahidake yang ada disini
merupakan gunung tertinggi di Hokkaido.
Habis
tidur 3-4 jam di dalam mobil di rest area, kami lanjut ke Disetsuzan. Sudah
tidak melewati jalan tol lagi, tetapi jalan pegunungan yang menanjak dan
berbelok. Sampai di stasiun ropeway Daisetsuzan jam 9 pagi, pas banget dapet
parkir terakhir yang dekat dengan stasiun ropeway. Mobil setelahnya harus rela
parkir cukup jauh, hihi.
Langsung
kita berempat menyerbu toilet buat sikat gigi dan cuci muka. Toiletnya kecil
dan nggak ada shower untuk mandi. Kalaupun ada shower, kayaknya nggak ada yang
berani mandi karena airnya dingin banget. Ada yang sempat ngelap-lap badan pake
tissue mandi. Kalo buat saya yang penting wangi dan bedakan, jadi cukup pake parfum dan ganti baju saja. Udah merasa
seger lagi. Hehe.
Lagi-lagi
naik gunung kali ini kita naik ropeway. Kalo di terjemahin ke Indonesia,
mungkin ropeway itu kereta gantung ya. Satu ropeway bisa muat banyak orang,
mungkin 30 orang. Keberangkatannya tiap 15 menit. Dari titik keberangkatan
sampai tujuan butuh waktu 8-10 menit. Lumayan bisa menikmati pemandangan taman
nasional dari dinding kaca ropeway. Karena udah akhir September sebenernya kita
berharap di sini sudah mulai ada perubahan warna daun jadi kuning atau merah.
Ternyata tahun ini di Jepang musim gugur telat 1-2 minggu. Daun di pepohonan
masih hijau. Belum berjodoh deh kayaknya menikmati musim gugur di Daisetsuzan.
Mungkin artinya lain kali harus ke sini lagi ya.
Pemandangan dari dinding kaca ropeway
Tempat
pemberhentian ropeway merupakan titik awal jalur hiking. Ada jalur hiking
mengelilingi daerah sekitar gunung Asahidake (ini yang kita ambil, butuh waktu
1-1,5 jam), dan jalur hiking yang lanjut sampai ke puncak gunung yang butuh
waktu 4-5 jam.
Pengunjung
yang datang bisa memilih antara kedua jalur ini. Tapi yang namanya orang
jepang, walaupun hiking-nya nggak sampai ke puncak, tetap style-nya all out
seperti orang mau ke gunung fuji. Sepatu khusus hiking, tongkat, jaket anti
angin, dan asesoris bermerek montbell, northface, dkk. Sedangkan kami
berempat?? Hehe, hanya pake jeans, jaket dan sepatu kets. Jadi tau diri ya
nggak mau nekat sampe ke puncak. Apalagi mengingat kondisi udah 2 hari kurang
tidur. Bisa-bisa semaput di perjalanan.
Bapak2 jepang lagi sibuk motret pemandangan
Gunung Asahidake di Daisetsuzan National Park
Habis
keliling dan foto-foto, saatnya balik ke stasiun ropeway dan balik ke mobil.
Perjalanan masih panjang. Tujuan berikutnya adalah melihat aneka bunga di
Furano. Furano ini kota yang terkenal di Hokkaido karena jadi setting dorama
jepang jaman baheula yang terkenal banget, judulnya Kita No Kuni Kara, atau
terjemahannya ‘dari negeri utara’. Konon (belum pernah nonton, makanya ditulis
konon :P) di dorama ini pemandangannya bagus banget, terutama pemandangan kebun
lavender yang luas.
Furano
memang identik dengan lavender yang mekar di musim panas. Tapi kita kesana kan
akhir September ya, musim panas udah lewat, musim gugur belum mulai. Furano
nggak hanya ada lavender saja, tapi juga berbagai jenis bunga lainnya. Mekar
tiap bunga beda-beda tergantung musim.
Setelah
muter-muter kota Furano karena nyasar dan mampir ke pos polisi untuk nanya2,
kami memutuskan ke Tomita Farm. Salah satu perkebunan terkenal disini. Kebunnya
luas banget. Selain kebun bunga-bungaan outdoor, mereka juga punya taman indoor
yang berisi koleksi tanaman yang tetap mekar walaupun bukan musimnya. Juga ada
berbagai produk olahan dari lavender, dan display room yang berisi bunga-bunga
kering yang ditata cantik sekali.
Pemandangan di Tomita Farm, Furano
Display bunga kering di Tomita Farm
Sudah
puas yaaa liat bunga-bungaan di Furano. Saatnya melanjutkan perjalanan. Masih
140 km lagi lho ke Sapporo. Di perjalanan sempat mampir dulu di restoran di
pinggir jalan. Saking sibuknya jalan-jalan sampe lupa mengisi perut. Di stasiun
ropeway Daisetsuzan cuma sarapan kroket kentang, dan di Tomita farm perut
diganjal hanya dengan eskrim melon. Enak sih eskrimnya, tapi yang namanya
eskrim mana ngasih tenaga. Untung perut akhirnya diisi juga, jadi bisa melanjutkan
perjalanan ke Sapporo dengan tenang. Untung juga dari Furano ke Sapporo bisa
lewat tol, jadi bisa dikebut supaya sampe Sapporo belum terlalu malam. Karena
malam ini rencana kami berempat mau pesta makan seafood di restoran all you can
eat yang menyediakan kepiting Hokkaido yang terkenal lezat itu, hohoho..
Sampai
di Sapporo kami berempat menuju hostel. Sudah nggak sanggup deh tidur di mobil
lagi. Pengen banget rasanya tidur meluruskan badan di kasur. Hostel yang kita
tempati lokasinya 10 menit jalan kaki ke stasiun Sapporo. Sekamar ada 3 kasur
tingkat yang bisa diisi 6 orang. Tapi waktu itu mungkin lagi nggak banyak tamu,
jadi sekamar cuma diisi kita berempat saja.
Hostel
ini nggak punya toilet ataupun kamar mandi sendiri. Toilet umum ada satu disetiap
lantai. Sedangkan kalau mau mandi harus ke kamar mandi umum yang hanya ada di
lantai basement. Kamar mandinya ala onsen jepang, yang mandinya rame-rame tanpa
sekat. Saya yang nggak nyaman berbugil ria dengan orang asing sudah deg-degan.
Tapi untuuuuunng banget waktu itu hostelnya lagi sepi. Jadi mandi cuma sendiri,
pake shower sambil duduk di bangku kecil. Nggak coba berendam di bak onsen sih,
karena takut pas lagi asik berendam ada orang lain yang masuk kamar mandi, kan
maluuu…
Oyaa..
pesta sefoodnya sangat menyenangkan (dan mengenyangkan). Nama restorannya
Nanda, hmm apa ya artinya. Kok mirip nama temen saya, hehe. Disini kita makan
sepuasnya semua makanan yang disediain selama 90 menit dengan membayar 2800
yen. Mahal?? Enggak banget. Karena disana kita puas2in makan kepiting Hokkaido
yang spesial itu, sama udang, berbagai jenis kerang, dll sebanyak-banyaknya.
Tapi 90 menit ternyata cepat sekali berlalu. Kalau mau perpanjang jadi 2 jam harus
nambah sekitar 1000. Ya sudahlah, sebenernya makan segini juga udah kenyang
banget. Kalo diperpanjang lagi mungkin habis ini perut bisa meledak beneran :P
Seafood tabehodai di Sapporo
Malam
itu kami berempat pulang ke hostel dengan bahagia. Perut kenyang, pengalaman
hari ini juga seru sekali. Udah hiking di Daisetsuzan, liat bunga di Furano,
dan ditutup dengan pesta seafood di Sapporo.
Besok
paginya saya harus duluan balik ke Tokyo, sedangkan teman-teman yang lain masih
melanjutkan petualangan di Sapporo sampai sore. Yaahh.. kenapa ya seminar lab
itu harus senin sore.. hhfff…
Liburan
ke Hokkaido ini memang impulsif, tapi nggak nyesel sama sekali. Makin semangat
merencanakan jalan-jalan berikutnya :D