Friday, December 20, 2013

Musim gugur tahun ini

Lagi-lagi saya tidak bisa rutin menulis di blog ini. Ternyata jadi mahasiswa doktor itu sangat menguras tenaga dan pikiran, sampai-sampai untuk mengupdate blog ini ini pun tidak sempat. Kalau ada waktu luang, saya lebih memilih untuk bermalasan di apato. Kadang saya dan hubby juga memasak. Dan ternyata memasak makanan favorit, apalagi memasak berdua lebih bisa melepaskan stress daripada menulis blog.

Saat weekend kita berdua masih menyempatkan diri jalan-jalan menikmati kota Tokyo. Terutama saat musim gugur, Tokyo sedang cantik-cantiknya dengan warna daun ginko yang menguning, dan daun momiji yang merah menyala.

Tahun ini kita menikmati pemandangan musim gugur dengan menyusuri Tokyo menggunakan sepeda dari satu taman ke taman lainnya. Sebenarnya tidak harus ke taman, pemandangan sepanjang jalan pun sudah sangat cantik. Banyak ruas jalan di Tokyo yang ditanami pohon ginko, yang daunnya dijadikan lambang kota Tokyo.

Pohon ginko yang menguning banyak terlihat di pinggir jalan

Ada dua taman terfavorit yang kita kunjungi saat musim gugur tahun ini. Yang pertama: Kitanomaru koen. Lokasinya di sebelah utara imperial palace. Dari apato, saya hanya perlu menggowes sekitar 20 menit. Taman ini punya satu lokasi yang penuh dengan pohon momiji. Jadi, saat musim gugur, satu bagian taman itu merah menyala. Enaknya di sini orang tidak begitu ramai. Masuknya juga gratis. Komplit deh, makanya jadi taman terfavorit 2013.


Momiji di Kitanomaru Koen


Taman kedua, masih gratis juga masuknya, adalah Yoyogi koen. Lokasinya dekat dengan Harajuku. Sejak pertama ke Tokyo saya sudah pernah ke sini, yang tujuannya ke Jinja Meiji Jingu yang termasuk Jinja (kuil agama Shinto) terbesar di Tokyo. Tapi baru tahun ini saya masuk ke bagian lain dari taman, yang banyak sekali ditanami pohon momiji dan ginko, dan membuat taman ini sangat cantik di musim gugur. Yoyogi koen lebih ramai dan luas. Sering dijadikan tempat ngumpul dan piknik oleh banyak orang. Yang nongkrong sambil main musik juga banyak. Kalau dari apato saya lumayan jauh, jaraknya sekitar 8 km, jadi kita harus menggowes ke sana sekitar 1 jam.

Yoyogi Koen

 Saya juga sempat ke Nikko bersama teman. Tujuannya ingin melihat pemandangan perbukitan yang berwarna kuning merah di sekitar danau Chuzenji, salah satu spot musim gugur yang terkenal cantik di Nikko. Bukannya bisa menikmati pemandangan, kita malah terjebak macet 4 jam di dalam bus yang menghubungkan stasiun Nikko dan danau Chuzenji. Masih untung kita sempat naik ropeway dan melihat pemandangan Nikko dari atas bukit. Setelah itu, kami buru-buru pulang untuk mengejar kereta ekspres terakhir, sampai memutuskan jalan kaki karena bus yang ditunggu masih terjebak macet. Dan ternyata kereta express sudah full booked. Terpaksa harus menerima nasib naik kereta lokal kembali ke Tokyo. Yah sudahlah, memang beginilah kalau sedang puncak musim gugur. Apalagi saat itu sedang long weekend juga.

Ropeway di Chuzenji Lake, Nikko

Sebenarnya tahun ini saya sendiri ingin ke Kyoto juga, meihat cantiknya musim gugur di sana. Tetapi karena pengalaman di Nikko kemarin, saya sudah kapok. Kapok untuk pergi ke tempat yang sudah terkenal bagus, karena semua orang pasti ingin kesana pada saat musimnya.

Banyak yang bilang kalau orang Jepang terlalu berlebihan dalam merayakan setiap musim. Contohnya ya musim gugur ini. Semua orang ingin liat momiji. Pas musim semi, semuanya ingin hanami di bawah pohon sakura. Sedangkan kalau musim panas, orang berbondong ingin menonton pertunjukan kembang api.

Atau, bisa jadi juga karena penduduk Jepang yang sangat padat, terutama di Tokyo. Jadi setiap ada event, sepertinya semua penduduk kota tumpah ruah di sana. Padahal sebenarnya nggak juga. Tapi, hanya dengan sepersekian dari penduduk kota yang datang, sudah membuat tempat acara itu penuh sesak.

Tapi memang ya, setiap musim di Jepang ini memang cantik, dengan kekhasannya masing-masing. Sekarang ini musim gugur sudah mau habis. Pohon-pohon yang tadinya warna warni sudah mulai gundul Udara makin  dingin, dan saya jadi makin malas kemana-mana.

Selamat datang musim dingin. Sepertinya sudah saatnya untuk merencanakan ski trip ke Nagano J



Wednesday, August 21, 2013

Jalan-jalan musim panas ke Hokkaido


Ini blog sudah berbulan-bulan terbengkalai. Postingan terakhir tentang trip ke Nagano di musim dingin. Dan sekarang sudah musim panas aja.

Setelah dari Nagano sebenarnya saya dan hubby sempat jalan-jalan ke beberapa tempat selama musim semi. Terutama untuk melihat bunga sakura. Tapi ya begitulah, nggak sempat ditulisin. Sok sibuk :P

Musim panas ini saya dapat jatah liburan yang lumayan lama. Kesempatan ini kami gunakan untuk merencanakan liburan selama seminggu ke tempat yang agak jauh, yaitu ke Hokkaido, tempat liburan favorit saya di Jepang.

Karena bersamaan dengan liburan Obon, saatnya orang Jepang mudik ke kampung halaman, perjalanan ini jadi agak ribet persiapannya. Tiket kereta banyak yg sudah sold out. Hotel juga penuh. Untung hotel untuk empat hari pertama sudah saya cicil pesan via booking.com (sejauh ini jadi website favorit untuk pemesanan hotel). Sedangkan 3 hari berikutnya baru diputuskan beberapa hari sebelum berangkat. Ya terima nasib selama 2 malam menginap di pension sederhana yang harganya sudah mahal. Sedangkan untuk malam terakhir kami berdua menginap di camping ground, pengalaman yang seru banget. Detailnya akan saya ceritakan di postingan terpisah.

Secara umum perjalanan kami dari Tokyo, saya dan hubby berangkat ke Hokkaido menggunakan shinkansen (bullet train) menuju Shin-Aomori. Lalu menyeberang ke Hokkaido dengan kereta Super Hakucho yang melewati terowongan bawah laut Seikan Tunnel menuju Hakodate. Menginap semalam di Hakodate, trus lanjut ke Otaru, berikutnya ke Sapporo, Biei, dan terakhir Furano.

Untuk transportasi selama di Hokkaido kita berdua menggunakan kereta, yang jadwalnya sangat jarang dibandingkan dengan jadwal kereta di Tokyo. Sempat berencana menyewa mobil supaya perjalanan lebih nyaman dan fleksibel. Tapi gara2 hubby gagal ujian SIM seminggu sebelum berangkat. Jadi terpaksa deh pakai kereta.

Kereta lokal di Ikutora

Tapi sepertinya gagal ujian  SIM ini jadi berkah juga, karena kita jadi punya pengalaman menikmati bermacam kereta di Hokkaido. Mulai dari super express yang nyaman mirip shinkansen, sampai kereta lokal yang gerbongnya cuma satu, dan masinis kereta sekalian jadi petugas tiket. Stasiun kereta juga nggak semuanya ada petugasnya. Dan lokasinya pun ada ditengah persawahan.

Dari semua tempat yang kita kunjungi di Hokkaido kemaren, Biei dan Furano jadi tempat favorit saya. Otaru juga bagus banget sebagai kota pelabuhan dengan kanalnya yang cantik. Di Sapporo lebih untuk istirahat dan makan, karena hotelnya lebih murah di banding tempat lain di Hokkaido. Sedangkan di Biei kita keliling menggunakan sepeda sewaan menikmati pemandangan alam yg cantiknya kebangetan seperti di lukisan. Lalu yang terakhir di Furano, tepatnya di Minami Furano (Furano Selatan) saya dan hubby sempat mencoba rafting di sungai yang super jernih, lalu leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan di camping ground di pinggir danau Kanayama.

Biei and Furano: the most beautiful villages in Japan

 Perjalanan kembali ke Tokyo sempat jadi masalah karena bersamaan dengan arus balik liburan Obon. Jangankan kereta, kapal pun semua tiketnya sudah penuh. Dan akhirnya kami menumpang pesawat AirAsia Japan dari bandara Shin Chitose menuju Narita. Di bandara suasananya juga chaos dengan penumpang yang overload.

Seminggu di Hokkaido sebenernya belum puas. Kemaren tidak sempat ke Shiretoko di paling timur Hokkaido. Juga kita juga ingin mengunjungi Wakkanai, poin paling utara di Jepang, yang sedikit lagi nyebrang bisa sampai ke Rusia (kalau punya visa).

Monday, February 25, 2013

Liburan musim dingin ke Nagano



Sebenarnya kalau sudah memasuki musim dingin jadi malas kemana-mana, terutama buat manusia tropis seperti saya. Walaupun musim dingin di Tokyo jarang saljunya, tapi dinginnya nggak kalah sama wilayah Jepang lainnya. Plus anginnya yang wuzz wuzz! Sudah pakai heat tech dan jaket sekian lapis juga tetap menggigil. Dan saya jadi kebiasaan menyetok kairo di saku jaket (pemanas sekali pakai) atau ditempel di telapak kaki.

Jarangnya turun salju di Tokyo ini juga bikin saya agak sebal. Masa hanya kebagian dinginnya aja. Salju dong, salju! Biar pemandangannya kayak di film-film gitu. Hampir tiga bulan musim dingin, baru sekali salju turun di Tokyo di pertengahan Januari kemarin. Saljunya cukup parah dan membuat repot semua orang. Sepertinya warga Tokyo memang punya ‘love-hate relationship’ dengan salju. Sumringah kalau salju datang, tapi benci dengan efeknya yang bikin semua orang jadi susah ngapa-ngapain. Banyak kereta yang nggak jalan, mobil yang tergelincir, atau jalan kaki jadi gampang terpeleset.
Saat hujan salju, di jalan depan apato


Tapi sayangnya, waktu badai salju ini suami sedang tidak di Tokyo. Dia cuma bisa lihat sisa-sisa salju di pinggir jalan seminggu setelahnya. Agak kecewa sih, tapi ya nggak kecewa-kecewa banget karena kita sudah merencanakan perjalanan singkat ke Nagano, daerah pegunungan sekitar 220 km ke utara, dimana kita bisa liat salju sepuasnya di sana.

Tujuan utama kita ke Nagano adalah melihat monyet salju yang suka berendam di kolam air panas. Dulu pernah baca artikelnya di majalah National Geographic, lupa entah edisi kapan. Di seluruh dunia, hanya monyet-monyet di Jepang yang suka berendam di kolam air panas (onsen). Sepertinya didukung oleh kondisi geografis Jepang punya banyak gunung api dan sumber air panas alami. Mungkin nenek moyangnya monyet disini pernah yang coba berendam, keenakan, dan jadi keterusan sampai sekarang.



Monyet berendam di Jigokudani Yaen-koen

Lokasi monyet onsen ini namanya Jigokudani Yaen-koen, atau Jigokudani Monkey Park. Jigokudani sendiri artinya lembah neraka, karena situasinya menurut orang-orang sini seperti neraka: curam dan banyak sumber air panasnya. Untuk mencapainya, dari stasiun Tokyo kita berdua naik Asama Shinkansen menuju Nagano (7770 yen, perjalanan 100 menit). Tiket shinkansen kita beli on the spot, tanpa reserve seat. Untuk menjamin dapat seat yang nyaman, kita udah antri di line gerbong unreserved sebelum keretanya datang. Untung juga kereta ini stasiun awalnya di Tokyo, jadi kemungkinan untuk dapat tempat duduk lebih besar. Sedangkan kalau saja kita naik dari stasiun Ueno, kayaknya tempat duduk sudah penuh. Bahkan di stasiun pemberhentian berikutnya seperti Takasaki, masih banyak penumpang yang naik dan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk lagi.

Sampai di stasiun Nagano, kita ganti kereta ekspres Nagano Dentetsu menuju Yudanaka (1130 yen, 74 menit). Kereta ekspres ini masinisnya tidak ada di depan atau dibelakang, tapi di bagian tengah kereta. Sedangkan dibagian depan dan belakang jendelanya didesain agar penumpang dapat menikmati pemandangan secara maksimal. Sepertinya kereta ini ditujukan untuk turis yang mengunjungi Yudanaka yang punya banyak objek wisata. Tidak hanya monkey park, tapi juga Yamanouchi-machi dan Shibu onsen yang terkenal dengan wisata onsen dari zaman dulu. Dan disini juga ada ski resort terbesar se-Jepang, yaitu Shiga Kogen yang pernah digunakan dalam olimpiade musim dingin tahun 1998.

Poster olimpiade musim dingin 1998, stasiun Nagano

Begitu sampai di stasiun Yudanaka kita berdua jalan kaki menuju ryokan (hotel tradisional Jepang), yaitu Shimaya ryokan yang jaraknya sekitar 400 meter dari stasiun. Ryokan ini dipilih karena harganya yang relatif murah dibanding ryokan sejenis, dan dapat review yang bagus di tripadvisor (14000 yen, tatami room untuk 2 orang dengan private bathroom). Pemiliknya Yumoto-san mengurus sendiri ryokan ini bersama istrinya. Bapak ini selalu sibuk kemana-mana mengantar tamu, walaupun tidak diminta oleh tamu tersebut. Tiap ada yang terlihat mau keluar dari ryokan, langsung ditanya, “Where are you going? I will take you!” Bahasa Inggrisnya lumayan lancar untuk standar orang Jepang.

Shimaya ryokan, Japanese style sroom

Setelah menaruh tas, saya dan suami langsung menuju monkey park, tentu saja diantar oleh Yumoto-san. Bapak ini sudah seperti sopir pribadi untuk setiap tamu yang menginap di ryokan nya. Seru sih, walaupun kadang kita jadi terburu-buru karena tugas dia selanjutnya (mengantar tamu lain tentunya) sudah menunggu.

Ternyata lokasi monkey park cukup jauh dari ryokan. Dari stasiun Yudanaka sebenarnya ada bus, tetapi jadwalnya hanya 1 atau 2 bus tiap jam. Untung banget deh dianterin sama Yumoto-san. Kita diantar sampai gerbang monkey park, dan melanjutkan perjalan dengan jalan kaki sejauh 1,6 km. Jalannya berupa jalan setapak melewati hutan pinus. Di kiri kanan penuh salju. Kebetulan hari itu salju turun walaupun tidak deras.

Di depan gerbang menuju monkey park


Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi kolam onsen yang diisi oleh monyet-monyet berendam. Sesampainya di lokasi, orang-orang sudah banyak yang berdiri mengelilingi kolam air panas yang penuh dengan para monyet yang berendam. Pengunjung sibuk memotret para monyet. Anehnya, monyet-monyet ini seperti tidak peduli dengan banyaknya manusia. Mereka cuek dan lanjut berendam dengan nikmatnya. Mau disorot sedekat apapun dengan kamera mereka tidak peduli.

Monkey onsen dan fotografer


Karena cuaca yang super duper dingin, setelah sekitar 45 menit, saya protes supaya suami menyudahi sesi pemotretannya. Kita balik jalan kaki ke gerbang untuk makan tempura soba. Nikmat banget rasanya lagi kedinginan begini makan tempura soba yang hangat. Lalu tak lama Yumoto-san menjemput dengan mobilnya untuk kembali ke ryokan.

Ke Yudanaka kurang sreg rasanya kalau tidak mencoba berendam di salah satu kolam air panasnya, atau onsen. Disini onsen tidak hanya untuk monyet, tapi juga untuk manusia. Konon sejak zaman samurai dulu, daerah ini sudah terkenal jadi tujuan wisata onsen. Tempat onsen yang ada sekarang ini banyak diantaranya yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Oya, berendam di onsen ala jepang semua pengunjung wajib bugil 100%. Berhubung suami ogah berbugil ria dengan orang asing, Yumoto-san merekomendasikan tempat onsen outdoor yang punya kolam privat. Dan lagi-lagi diantar sendiri oleh si Bapak. Sungguh pengalaman onsen ini tiada duanya deh. Kolamnya outdoor, di tempat tinggi seperti diatas tebing, jadi kita bisa menikmati pemandangan pedesaan ke bawah sambil berendam dan kena hujan salju. Kita pesan onsen ini selama 50 menit seharga 2500 yen buat berdua. Tidak begitu mahal juga, karena untuk onsen umum, perorang bayar 1000 yen. Pada saat di jemput oleh Yumoto-san, kita minta diturunkan di warung sushi tak jauh dari ryokan untuk makan malam.

Private outdoor onsen

Hari kedua di Yudanaka. Dimulai dengan sarapan ala Jepang di restoran ryokan. Sarapan ini tidak termasuk di biaya kamar, jadi perorang kita harus bayar 1200 yen. Atau bisa lebih murah kalau pesan western breakfast dengan menu roti-rotian. Sarapan ala Jepang memang khas banget. Menunya beragam dengan porsi kecil-kecil. Mulai dari nasi, ikan, sup miso, acar, buah, dll. Kenyang banget.

Selanjutnya kita berdua tidak punya rencana khusus. Hanya mau keliling menikmati pemandangan kota. Yumoto-san mengantar kami ke Shibu-onsen, tak jauh dari ryokan, dimana juga banyak terdapat onsen. Disini suasanya lebih eksotik. Ada puluhan onsen yang bersebelahan satu sama lain, dihubungkan oleh jalan-jalan kecil. Tamu yang menginap di daerah ini umumnya suka onsen hopping, atau berendam dari satu onsen ke onsen lainnya. Saya dan suami hanya berkeliling, mengambil foto, dan mampir di beberapa toko yang menjual kue-kue manis ala jepang atau wagashi.

Shibu-onsen


Dari shibu onsen, kita mampir ke kuil yang ada patung besarnya. Entah ini patung apa, sepertinya kannon atau di Indonesia dikenal dengan nama dewi kwan im. Setelah foto-foto dan membuat kehebohan dengan membunyikan lonceng besar disana, kita berdua balik ke ryokan dengan jalan kaki.

Liburan singkat yang mengesankan. Mudah-mudahan bisa balik kesini saat musim gugur nanti untuk menikmati musim panen apel, karena waktu keliling kota dan sepanjang perjalanan kita banyak sekali melihat perkebunan apel. Dan tentu saja mencoba lagi private onsen outdoor yang sangat nikmat itu.

Ini video perjalanan ke Nagano kemarin, yang diupload di Youtube.








Thursday, December 13, 2012

Warna-warni daun di musim gugur



Musim gugur di Jepang adalah kesempatan menikmati pemandangan perubahan warna daun (koyo), dari hijau jadi kuning atau merah sebelum akhirnya berguguran. Tahun ini musim gugur datang terlambat sekitar 2 minggu dari biasanya. Alasannya kenapa, saya nggak tau jelas. Mungkin ada dibahas di tv, tapi maklumlah 8 bulan tinggal di Tokyo saya masih saja bisu tuli, nggak bisa ngomong dan nggak ngerti omongan orang-orang disini.

Dua tanaman yang paling mencolok perubahan warna daunnya adalah pohon ginko dan momiji. Di seluruh Jepang banyak tempat yang bisa jadi spot cantik untuk menikmati koyo, yang umumnya didominasi oleh kedua tanaman ini. Info tempat yang direkomendasikan untuk menikmati koyo bisa dilihat disini.

Daun momiji yang mulai memerah

Pengen banget bisa mengunjungi semua tempat yang ditulis di link itu. Yah dicicil deh satu persatu. Mulai dari yang dekat-dekat dulu. Tahun ini saya cukup puas bisa menikmati koyo di 3 dari  koyo spot yang ditulis disana.

1. Oze national Park

Trip ke Oze ini masih bersama teman-teman yang sebulan sebelumnya bareng ke Hokkaido, ditambah beberapa orang lainnya. Lokasinya di Gunma, sekitar 150 km sebelah utara Tokyo. Karena cukup jauh, kami menyewa mobil dari Tokyo supaya bisa lebih leluasa mengatur waktu perjalanan.

Oze terletak didataran tinggi (1400 mdpl), jadi koyo disini bisa dilihat lebih awal dibanding di Tokyo. Waktu kesana di akhir Oktober 2012, warna daun sudah berubah dan lagi cantik-cantiknya kuning dan merah. Kalau lebih telat dari itu, mungkin sebagian besar daun sudah mencoklat dan gugur.

Mobil kami parkir di Tokura, kemudian lanjut ke Hatomachitoge dengan menumpang bus yang khusus untuk pengunjung yang ingin masuk ke Oze National Park. Mau menyetir sendiri sampai ke pintu masuk national juga bisa, tapi kondisi jalan cukup berbahaya dengan banyak belokan tajam dan jurang terjal.

Petualangan di national park dimulai dengan menyusuri hiking trail yang disediakan dua jalur, supaya pengujung yang beda arah (masuk dan keluar) bisa jalan dengan nyaman tanpa bertabrakan. 


Jalur hiking di Oze National Park

Kami berjalan sekitar 1 jam untuk sampai ke Ozegahara Marshland. Tanah rawa ini selalu cantik di setiap musim. Di musim gugur, tanaman di rawa berwarna cokelat, dan dari kejauhan dapat dilihat warna warni pohon dengan latar belakang gunung Hiuchigatake. Disini disediakan beberapa tempat untuk duduk-duduk menikmati pemandangan dan berfoto.

Ozegahara Marshland di Oze National Park

2. Taman Rikugien, Komagome Tokyo.

Menikmati koyo berikutnya saya sudah ditemani suami yang mulai ikut tinggal di Tokyo. Yess, makin seru dan romantis :D. Sekalian kesempatan mengunjungi tempat-tempat cantik di Tokyo. Kalau sendirian agak malas yaa. Mau ngajak teman, kadang minatnya nggak sama.

Dimulai dengan mengunjungi taman yang dekat dari apato yaitu taman Rikugien, dan ternyata taman ini ada di list koyo spot tercantik di website japan-guide. Lokasinya cuma 2 stasiun dari apato. Taman Rikugien termasuk taman tercantik se-Jepang, selain Koishikawa Korakuen (koyo spot nomer 3 di postingan ini) yang juga deket banget dari rumah. Hohoho, senangnya tinggal dekat dengan taman-taman cantik.

Menurut sejarahnya taman Rikugien ini dibuat oleh daimyo (pemimpin jaman dulu, posisi di bawah shogun) yang tinggal disana. Awalnya lansekapnya hanya berupa tanah datar, lalu kemudian digali-timbun (cut and fill) sampai terbentuk taman yang berbukit dan ada kolamnya. Tanaman disini diatur dengan style tradisional jepang.

Taman Rikugien

Khusus selama musim gugur, di Rikugien ada light up (ライトアプ) begitu cuaca jadi gelap. Pohon-pohon yang ada di sana di terangi dengan lampu sorot dari bawah. Cantik sih, tapi butuh semangat ekstra karena suhu yang makin dingin di malam hari.

Light up taman Rikugien

3. Taman Koishikawa Korakuen

Salah satu taman tercantik se-Jepang juga, dan hanya 10 menit sepedaan dari apato. Cinta banget deh sama taman ini. Lokasinya dekat dengan Tokyo Dome (stadion baseball) yang mencolok dengan atap putih bundar dan besar.

Pemandangannya kurang lebih sama dengan Rikugien, ada kolam dan lahan yang berbukit-bukit. Dibangun di zaman edo oleh kerabat shogun Tokugawa. Dengan banyaknya momiji, taman ini memang paling cantik disaat musim gugur. Tetapi sakura juga lumayan banyak, jadi waktu musim semi nanti harus kesini lagi untuk menikmati mekarnya sakura.

Taman Koishikawa Korakuen

Daun momiji gugur berserakan di walking trail

4. Kampus University of Tokyo (Todai)

Kalau yang ini sih bonus, bisa dinikmati setiap hari selama pohon gingko yang banyak ditanam di lingkungan kampus sedang berubah warna jadi kuning. Kayaknya hampir tiap hari saya berhenti sebentar di ginko avenue dekat gerbang utama untuk memotret menggunakan kamera iphone. Kalau suami ikut makan siang bareng di kampus, dia sempetin bawa kamera juga, dan motret sampai memori cardnya penuh.

Pohon ginko yang menguning di kampus University of Tokyo

Dibanding musim semi, menurut saya kampus Todai lebih cantik di musim gugur karena jumlah pohon ginko lebih banyak dibanding sakura. Mungkin karena itu logo Todai adalah dua helai daun ginko.

Thursday, November 22, 2012

Hokkaido day 3 (end)


Waahhh sudah hari ketiga nih di Hokkaido. Saya dan tiga teman lainnya sudah dalam perjalanan ke Taman Nasional Disetsuzan. Menurut japan-guide.com, taman nasional ini termasuk yang paling alami, dan gunung Asahidake yang ada disini merupakan gunung tertinggi di Hokkaido.

Habis tidur 3-4 jam di dalam mobil di rest area, kami lanjut ke Disetsuzan. Sudah tidak melewati jalan tol lagi, tetapi jalan pegunungan yang menanjak dan berbelok. Sampai di stasiun ropeway Daisetsuzan jam 9 pagi, pas banget dapet parkir terakhir yang dekat dengan stasiun ropeway. Mobil setelahnya harus rela parkir cukup jauh, hihi.

Langsung kita berempat menyerbu toilet buat sikat gigi dan cuci muka. Toiletnya kecil dan nggak ada shower untuk mandi. Kalaupun ada shower, kayaknya nggak ada yang berani mandi karena airnya dingin banget. Ada yang sempat ngelap-lap badan pake tissue mandi. Kalo buat saya yang penting wangi dan bedakan, jadi cukup  pake parfum dan ganti baju saja. Udah merasa seger lagi. Hehe.

Lagi-lagi naik gunung kali ini kita naik ropeway. Kalo di terjemahin ke Indonesia, mungkin ropeway itu kereta gantung ya. Satu ropeway bisa muat banyak orang, mungkin 30 orang. Keberangkatannya tiap 15 menit. Dari titik keberangkatan sampai tujuan butuh waktu 8-10 menit. Lumayan bisa menikmati pemandangan taman nasional dari dinding kaca ropeway. Karena udah akhir September sebenernya kita berharap di sini sudah mulai ada perubahan warna daun jadi kuning atau merah. Ternyata tahun ini di Jepang musim gugur telat 1-2 minggu. Daun di pepohonan masih hijau. Belum berjodoh deh kayaknya menikmati musim gugur di Daisetsuzan. Mungkin artinya lain kali harus ke sini lagi ya.

Pemandangan dari dinding kaca ropeway


Tempat pemberhentian ropeway merupakan titik awal jalur hiking. Ada jalur hiking mengelilingi daerah sekitar gunung Asahidake (ini yang kita ambil, butuh waktu 1-1,5 jam), dan jalur hiking yang lanjut sampai ke puncak gunung yang butuh waktu 4-5 jam.

Pengunjung yang datang bisa memilih antara kedua jalur ini. Tapi yang namanya orang jepang, walaupun hiking-nya nggak sampai ke puncak, tetap style-nya all out seperti orang mau ke gunung fuji. Sepatu khusus hiking, tongkat, jaket anti angin, dan asesoris bermerek montbell, northface, dkk. Sedangkan kami berempat?? Hehe, hanya pake jeans, jaket dan sepatu kets. Jadi tau diri ya nggak mau nekat sampe ke puncak. Apalagi mengingat kondisi udah 2 hari kurang tidur. Bisa-bisa semaput di perjalanan.

Bapak2 jepang lagi sibuk motret pemandangan

Gunung Asahidake di Daisetsuzan National Park


Habis keliling dan foto-foto, saatnya balik ke stasiun ropeway dan balik ke mobil. Perjalanan masih panjang. Tujuan berikutnya adalah melihat aneka bunga di Furano. Furano ini kota yang terkenal di Hokkaido karena jadi setting dorama jepang jaman baheula yang terkenal banget, judulnya Kita No Kuni Kara, atau terjemahannya ‘dari negeri utara’. Konon (belum pernah nonton, makanya ditulis konon :P) di dorama ini pemandangannya bagus banget, terutama pemandangan kebun lavender yang luas.

Furano memang identik dengan lavender yang mekar di musim panas. Tapi kita kesana kan akhir September ya, musim panas udah lewat, musim gugur belum mulai. Furano nggak hanya ada lavender saja, tapi juga berbagai jenis bunga lainnya. Mekar tiap bunga beda-beda tergantung musim. 

Setelah muter-muter kota Furano karena nyasar dan mampir ke pos polisi untuk nanya2, kami memutuskan ke Tomita Farm. Salah satu perkebunan terkenal disini. Kebunnya luas banget. Selain kebun bunga-bungaan outdoor, mereka juga punya taman indoor yang berisi koleksi tanaman yang tetap mekar walaupun bukan musimnya. Juga ada berbagai produk olahan dari lavender, dan display room yang berisi bunga-bunga kering yang ditata cantik sekali.

Pemandangan di Tomita Farm, Furano

Display bunga kering di Tomita Farm


Sudah puas yaaa liat bunga-bungaan di Furano. Saatnya melanjutkan perjalanan. Masih 140 km lagi lho ke Sapporo. Di perjalanan sempat mampir dulu di restoran di pinggir jalan. Saking sibuknya jalan-jalan sampe lupa mengisi perut. Di stasiun ropeway Daisetsuzan cuma sarapan kroket kentang, dan di Tomita farm perut diganjal hanya dengan eskrim melon. Enak sih eskrimnya, tapi yang namanya eskrim mana ngasih tenaga. Untung perut akhirnya diisi juga, jadi bisa melanjutkan perjalanan ke Sapporo dengan tenang. Untung juga dari Furano ke Sapporo bisa lewat tol, jadi bisa dikebut supaya sampe Sapporo belum terlalu malam. Karena malam ini rencana kami berempat mau pesta makan seafood di restoran all you can eat yang menyediakan kepiting Hokkaido yang terkenal lezat itu, hohoho..

Sampai di Sapporo kami berempat menuju hostel. Sudah nggak sanggup deh tidur di mobil lagi. Pengen banget rasanya tidur meluruskan badan di kasur. Hostel yang kita tempati lokasinya 10 menit jalan kaki ke stasiun Sapporo. Sekamar ada 3 kasur tingkat yang bisa diisi 6 orang. Tapi waktu itu mungkin lagi nggak banyak tamu, jadi sekamar cuma diisi kita berempat saja.

Hostel ini nggak punya toilet ataupun kamar mandi sendiri. Toilet umum ada satu disetiap lantai. Sedangkan kalau mau mandi harus ke kamar mandi umum yang hanya ada di lantai basement. Kamar mandinya ala onsen jepang, yang mandinya rame-rame tanpa sekat. Saya yang nggak nyaman berbugil ria dengan orang asing sudah deg-degan. Tapi untuuuuunng banget waktu itu hostelnya lagi sepi. Jadi mandi cuma sendiri, pake shower sambil duduk di bangku kecil. Nggak coba berendam di bak onsen sih, karena takut pas lagi asik berendam ada orang lain yang masuk kamar mandi, kan maluuu…

Oyaa.. pesta sefoodnya sangat menyenangkan (dan mengenyangkan). Nama restorannya Nanda, hmm apa ya artinya. Kok mirip nama temen saya, hehe. Disini kita makan sepuasnya semua makanan yang disediain selama 90 menit dengan membayar 2800 yen. Mahal?? Enggak banget. Karena disana kita puas2in makan kepiting Hokkaido yang spesial itu, sama udang, berbagai jenis kerang, dll sebanyak-banyaknya. Tapi 90 menit ternyata cepat sekali berlalu. Kalau mau perpanjang jadi 2 jam harus nambah sekitar 1000. Ya sudahlah, sebenernya makan segini juga udah kenyang banget. Kalo diperpanjang lagi mungkin habis ini perut bisa meledak beneran :P

Seafood tabehodai di Sapporo


Malam itu kami berempat pulang ke hostel dengan bahagia. Perut kenyang, pengalaman hari ini juga seru sekali. Udah hiking di Daisetsuzan, liat bunga di Furano, dan ditutup dengan pesta seafood di Sapporo.

Besok paginya saya harus duluan balik ke Tokyo, sedangkan teman-teman yang lain masih melanjutkan petualangan di Sapporo sampai sore. Yaahh.. kenapa ya seminar lab itu harus senin sore.. hhfff…

Liburan ke Hokkaido ini memang impulsif, tapi nggak nyesel sama sekali. Makin semangat merencanakan jalan-jalan berikutnya :D