Friday, January 3, 2014

Reminiscing 2013 (part2)

Juli

Pertama kali datang ke kawinan orang Jepang. Ada teman lab yang menikah, semua anak-anak lab di undang ke resepsinya di restoran di dekat stasiun Tokyo. Masih ingat hebohnya menyiapkan mau pakai baju apa, beli sepatu di seibu ikebukuro, dan minta bantuan teman buat menjahitkan rok dari bahan tenun bali. Dasar tidak terbiasa pakai high heels, sepatu cantik yang sudah dibeli mahal malah akhirnya ditenteng. Saya pulang nyeker jalan kaki dari stasiun Kasuga ke apato. Sakitnya nggak tahan!

Sepatu cantik, tapi pulang nyeker

Bulan ini cuaca makin panas pas banget mulai bulan puasa. Seminggu pertama puasa cuaca sangat tidak bersahabat. Panas, lembab, nggak ada angin. Benar-benar cobaan iman.

Agustus

Bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Liburan musim panas akhirnya datang juga!! Sensei berbaik hati memberikan libur maksimal tiga minggu selama bulan ini. Saya memilih untuk full ke kampus selama seminggu pertama sampai hari raya Idul Fitri. Habis sholat Ied di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) di Meguro, saya masih masuk lab setengah hari. Lalu blasss, libur sampai akhir bulan.

Saya dan hubby selama liburan ini menjelajah Hokkaido. Mulai dari Hakkodate, Otaru, Sapporo, Biei, dan Furano. Seru banget! Saking berkesannya, kami merencanakan untuk kembali ke Hokkaido di liburan musim panas tahun depan.

Pemandangan di Biei, Hokkaido

Kembali ke Tokyo, kita berdua masih sempat menikmati liburan di Tokyo dan sekitarnya. Hubby akhirnya lulus ujian SIM mobil setelah ujian praktik yang kedua kalinya. Kita sewa mobil ke Toyota rental car dekat rumah, untuk mencoba menjelajah daerah Kanto melewati Nihon Romantic Road. Dari Tokyo menuju arah Nagano, mampir di Karuizawa, menginap di Kusatsu Onsen Gunma, ke Nikko, lalu kembali ke Tokyo. Total perjalanan 515 km selama 2 hari.

Rute jalan-jalan via Nihon Romantic Road


September

Kembali ke rutinitas di kampus. Bersama teman-teman lab, saya sempat ke Tokyo Disneysea di hari jumat malam. Kami beli tiket after 6. Hanya dengan 3300 yen bisa menikmati Tokyo DisneySea dari jam 6 sore sampai tutup jam 10 malam. Untung pergi dengan teman yang sudah hapal DisneySea di luar kepala, selama 3,5 jam disana kita berhasil naik 7 wahana.

After 6 passport, Tokyo DisneySea


Di bulan ini saya juga berulang tahun. Khusus tahun ini untuk hadiah ultah saya minta dibelikan tas branded ke hubby. Karena kita berdua nggak ngerti tentang dunia tas cewek, saya minta bantuan teman untuk memilihkan tas di Matsuya Ginza. Dan akhirnya.. saya punya satu tas andalan, warna merah menyala merek Kate Spade. Sungguh cinta deh sama tas ini. Walaupun sempat naksir dengan Prada yang warnanya merah juga, tapi liat harganya yang berkali-kali lipat, nggak mau!! Mending duitnya dipake buat jalan-jalan ke Hokkaido lagi.

Oktober

Pertama kali nonton pertandingan baseball liga mahasiswa dengan teman-teman lab. Acara nonton bareng ini juga karena diajak oleh sensei yang hobi banget nonton baseball. Kita serombongan nonton di bangku cheerleader. Jadi harus ikutan teriak-teriak menyemangati tim baseball kampus. Bisa lihat langsung gimana cheerleader jepang beraksi. Istimewanya cheerleader di Jepang, tim intinya bukan cewek-cewek seksi, tapi cowok-cowok berseragam hitam, dengan semangat membara tanpa henti bersorak sorai non-stop selama pertandingan.

November

Mulai masuk musim gugur. Saya sempat ke Nikko saat long weekend, yang ternyata hanya mendapati macet panjang di sana. Sisanya hanya menikmati warna-warni musim gugur di Tokyo saja.

Awal bulan lumayan sibuk mempersiapkan pertunjukan angklung di acara international day di kampus. Habis pertunjukkan, ada party yang cukup menyenangkan. Party yang menyenangkan buat saya artinya banyak makanan yang bisa dimakan (halal), dan ketemu dengan orang-orang baru yang menarik. Di sini saya ketemu lagi dengan mas-mas cheerleader di pertandingan baseball bulan lalu, yang juga jadi pengisi acara. Kita sempat ngobrol tentang latihan rutin mereka yang ternyata berat. Yah.. apa sih yang nggak berat di Jepang ini.

Berdua hubby, kita mengunjungi Tokyo Motor Show di Odaiba. Pameran ini katanya termasuk pameran otomotif yang bergengsi di dunia. Sayangnya kita datang saat weekend, pengunjung datang berlimpah ruah. Bukannya liat mobil dan motor, yang ada cuma liat orang. Setelah hubby beres liat motor favoritnya, kita cabut pulang.

Tokyo Motor Show, Odaiba


Desember

Awal bulan di buka dengan nonton konser Bon Jovi di Tokyo Dome. Karena lokasinya dekat banget dari apato, rasanya tidak seperti habis nonton artis rock kelas dunia. Dari apato cuma sepedaan 5 menit, parkir sepeda, masuk gedung pertunjukan. Tiga jam kemudian konser selesai, semua penonton keluar dengan tertib, ambil sepeda, gowes lagi. Sampai di apato kita berdua masak untuk makan malam. Kayak nggak ada usahanya gitu buat nonton konser, hehe. Konsernya sendiri keren banget. Yah namanya aja Bon Jovi. Suara si om Jon keren, persis seperti dengerin lagunya di CD. Saya nonton sambil nangis bahagia, akhirnya bisa liat langsung band ini main live.

Konser Bon Jovi, Tokyo Dome

Hubby katanya pengen memotret gunung Fuji yang bagian atasnya bersalju. Jadi kita berdua sewa mobil lagi ke Toyota rental car, cabut ke Kawaguchiko di Yamanashi. Karena lumayan dekat, nggak pake acara menginap. Lumayan menghemat duit buat hotel. Kali ini mobilnya kita coba pake Toyota Prius. Cobain mobil hybrid, memang hemat bensin banget. Dan nggak ada suara mesinnya sama sekali, yang sebenarnya agak bahaya menurut saya. Buat orang yang tidak terbiasa jadi nggak tau mesin mobilnya nyala atau tidak.

Gunung Fuji, awal musim dingin

Akhir bulan cuaca makin dingin. Saya kedinginan nggak karuan, yang membuat kita beli heater satu lagi, jenis gas heater supaya tidak makin boros listrik (tapi boros gas). Akhir tahun, saat liburan saya kena alergi yang entah dari mana. Bintik-bintik merah menyebar, awalnya cuma di tangan, lalu punggung, perut, dan sampai ke kaki. Gatalnya nauzubillah. Bikin saya garuk-garuk kayak monyet selama 3 hari. Saat ini sudah tahun baru, saya masih tahap penyembuhan. Jadi libur seminggu tahun baru ini sangat spesial. Bukan diisi dengan jalan-jalan, tapi dengan garuk-garuk.

Gas heater untuk menghadapi musim dingin


Mudah-mudahan tahun 2014 selalu diberi kesehatan, dan bisa lebih banyak jalan-jalan. Dan yang penting banget nih, semoga riset di lab berjalan lancar, bisa ikut conference, dan publish paper. Amien.. amien.. amien!!!

Thursday, January 2, 2014

Reminiscing 2013 (part 1)

Tak terasa tahun 2013 sudah pergi. Banyak hal yang terjadi di tahun ini. Alhamdulillah hal yang menyenangkan lebih banyak dari yang mengecewakan. Mari kita rekap apa yang terjadi dalam setahun kemarin.

Januari

Yang paling diingat bulan ini adalah hujan salju di pertengahan bulan. Salju menumpuk sangat tebal di jalan, dan masih terlihat sampai 2 minggu setelahnya. Sebenarnya Tokyo jarang bersalju di musim dingin. Kalaupun ada salju, paling cuma sedikit. Salju tebal bulan ini sangat tidak biasa.

Salju tebal yang tidak biasa di Tokyo, Januari 2013

Di akhir bulan, saya dan hubby sempat jalan-jalan ke Yudanaka di prefektur Nagano. Tujuannya untuk melihat monyet salju yang suka berendam di kolam air panas. Para monyetnya lucu, terlihat sangat menikmati hangatnya kolam. Sedangkan saya hampir beku kedinginan menemani hubby yang sibuk motret si monyet. Kami menginap di ryokan Shimaya yang sederhana dan nyaman. Pengalaman tak terlupakan disini adalah berendam di onsen pribadi, outdoor, sambil menikmati pemandangan desa dari atas tebing.

Monyet berendam di onsen, Yudanaka, Nagano


Februari

Bulan ini saya ujian masuk program doktor. Ujian tertulisnya, yahh begitulah. Saya tidak begitu yakin. Untungnya di ujian oral, sensei sangat membantu dalam mempersiapkan bahan presentasi. Jadi presentasi dan tanya jawab berjalan mulus, dan saya bisa lulus dengan nilai baik.

Maret

Di kampus saya mulai belajar teknik eksperimen dari mahasiswa senior. Juga jadi lebih berinteraksi dengan teman-teman di lab.

Bulan ini sempat mengunjungi museum Fujiko F. Fujio, atau lebih dikenal sebagai museum doraemon, bersama teman-teman PPI Todai (Pelajar Indonesia di Tokyo Daigaku/Univ. of Tokyo). Lalu mendadak besoknya dapat traktiran ke Disneyland. Seru sih, tapi sayangnya cuaca tidak mendukung. Sedang ada badai pasir dari Cina, sehingga banyak pertunjukkan outdoor yang dibatalkan hari itu, termasuk parade karakter Disney.

Doraemon di Fujiko F. Fujio Museum

It's a small world, Tokyo Disneyland


April

Di bulan ini Tokyo sedang di saat tercantiknya. Bunga sakura mulai mekar. Orang-orang sibuk hanami di taman. Saya dan hubby juga sibuk koen-hopping: mengunjungi satu taman ke taman lainnya. Yang paling sering tentu saja ke Taman Ueno, yang paling dekat dari apato. Taman Ueno sepertinya memang dirancang untuk musim semi. Banyak pohon sakura beraneka jenis, dibawahnya orang ramai menggelar tikar sambil mengobrol dan minum sake. Selain ke Ueno, kita juga ke Inokashira Koen di barat Tokyo, Shinjuku Gyoen, Sumida Koen di Asakusa, taman kecil dekat Kudanshita, dan deretan sakura dekat stasiun Iidabashi. Saya ganti sepeda yang lebih bagus supaya tidak ketinggalan jauh terus kalau sepedaan keliling kota bareng hubby.

Sakura di Ueno Koen

Inokashira Pond di Inokashira Koen


Sensei mengajak mahasiswa asing menonton liga baseball professional, Yomiuri Giant (Tokyo) vs Chunichi Dragons (Nagoya) di Tokyo Dome. Tempat duduknya jauuuhh banget diatas. Sebenarnya detail permainan tidak terlihat jelas. Tapi atmosfer pertandingan cukup terasa. Apalagi tim tuan rumah (Yomiuri Giant) menang, membuat penonton makin gegap gempita, dan sensei jadi manyun karena dia mendukung tim lawan yang kalah telak.

Akhir bulan dapat ajakan mengunjungi Edo Wonderland di Nikko bersama teman-teman Indonesia. Pengalaman seru melihat bagaimana kehidupan Jepang di masa dulu, saat masih ada ninja dan samurai.

Mei

Bulan Mei untuk anggota PPI Todai artinya adalah kesibukan menyiapkan Gogatsusai, atau festival bulan Mei. Festival ini diadakan tiap tahun di kampus Hongo. Dan tiap tahun juga PPI Todai jualan soto disini yang sudah terkenal dan selalu laris manis. Apato kami karena lokasinya paling dekat dari kampus dijadikan basecamp untuk menyiapkan bahan makan dan menyimpan perlengkapan.

Perjalanan yang lumayan jauh bulan ini yaitu ke Ibaraki, ke taman Hitachi kaihin koen.  Bunga yang mekar di bulan Mei adalah Nemophilla yang berwarna biru, ditanam di lahan yang sangat luas di taman ini.

Taman Nemophilla di Hitachi Kaihin Koen, Ibaraki

Juga ada trip dengan anggota lab, termasuk semua sensei, ke Shizuoka. Seperti biasa, tiap kali acara lab pasti tak lepas dari minum sake dan teman-temannya. Stok sake tak putus-putusnya sewaktu party setelah makan malam. Besoknya lanjut ke beer garden. Bahkan kami juga mengunjungi pabrik whisky Kirin. Saya yang nggak ikutan minum saja sudah puyeng liat mereka minum alkohol nggak berhenti. Tapi tetep, walaupun mabok, orang jepang selalu sopan dan menjaga sikap. Sungguh hebat sekali, ckckck..

Juni

Tokyo mulai panas di bulan ini. Saya dan hubby pindah ke apato baru, yang hanya berjarak 300 meter dari apato lama. Karena tidak jauh, pindahan hanya menggunakan troli bolak-balik dibantu teman-teman. Banyak alasan kenapa pindah, yang jelas kami lebih puas dengan apato yang sekarang terutama karena lebih terang, dan kualitas bangunan lebih bagus. Jarak ke kampus jadi sedikit lebih dekat.  Dari apato yang dulu ke kampus sepedaan 5 menit, sekarang jadi 4 menit. Lumayan hemat 1 menit, hehe.





Friday, December 20, 2013

Musim gugur tahun ini

Lagi-lagi saya tidak bisa rutin menulis di blog ini. Ternyata jadi mahasiswa doktor itu sangat menguras tenaga dan pikiran, sampai-sampai untuk mengupdate blog ini ini pun tidak sempat. Kalau ada waktu luang, saya lebih memilih untuk bermalasan di apato. Kadang saya dan hubby juga memasak. Dan ternyata memasak makanan favorit, apalagi memasak berdua lebih bisa melepaskan stress daripada menulis blog.

Saat weekend kita berdua masih menyempatkan diri jalan-jalan menikmati kota Tokyo. Terutama saat musim gugur, Tokyo sedang cantik-cantiknya dengan warna daun ginko yang menguning, dan daun momiji yang merah menyala.

Tahun ini kita menikmati pemandangan musim gugur dengan menyusuri Tokyo menggunakan sepeda dari satu taman ke taman lainnya. Sebenarnya tidak harus ke taman, pemandangan sepanjang jalan pun sudah sangat cantik. Banyak ruas jalan di Tokyo yang ditanami pohon ginko, yang daunnya dijadikan lambang kota Tokyo.

Pohon ginko yang menguning banyak terlihat di pinggir jalan

Ada dua taman terfavorit yang kita kunjungi saat musim gugur tahun ini. Yang pertama: Kitanomaru koen. Lokasinya di sebelah utara imperial palace. Dari apato, saya hanya perlu menggowes sekitar 20 menit. Taman ini punya satu lokasi yang penuh dengan pohon momiji. Jadi, saat musim gugur, satu bagian taman itu merah menyala. Enaknya di sini orang tidak begitu ramai. Masuknya juga gratis. Komplit deh, makanya jadi taman terfavorit 2013.


Momiji di Kitanomaru Koen


Taman kedua, masih gratis juga masuknya, adalah Yoyogi koen. Lokasinya dekat dengan Harajuku. Sejak pertama ke Tokyo saya sudah pernah ke sini, yang tujuannya ke Jinja Meiji Jingu yang termasuk Jinja (kuil agama Shinto) terbesar di Tokyo. Tapi baru tahun ini saya masuk ke bagian lain dari taman, yang banyak sekali ditanami pohon momiji dan ginko, dan membuat taman ini sangat cantik di musim gugur. Yoyogi koen lebih ramai dan luas. Sering dijadikan tempat ngumpul dan piknik oleh banyak orang. Yang nongkrong sambil main musik juga banyak. Kalau dari apato saya lumayan jauh, jaraknya sekitar 8 km, jadi kita harus menggowes ke sana sekitar 1 jam.

Yoyogi Koen

 Saya juga sempat ke Nikko bersama teman. Tujuannya ingin melihat pemandangan perbukitan yang berwarna kuning merah di sekitar danau Chuzenji, salah satu spot musim gugur yang terkenal cantik di Nikko. Bukannya bisa menikmati pemandangan, kita malah terjebak macet 4 jam di dalam bus yang menghubungkan stasiun Nikko dan danau Chuzenji. Masih untung kita sempat naik ropeway dan melihat pemandangan Nikko dari atas bukit. Setelah itu, kami buru-buru pulang untuk mengejar kereta ekspres terakhir, sampai memutuskan jalan kaki karena bus yang ditunggu masih terjebak macet. Dan ternyata kereta express sudah full booked. Terpaksa harus menerima nasib naik kereta lokal kembali ke Tokyo. Yah sudahlah, memang beginilah kalau sedang puncak musim gugur. Apalagi saat itu sedang long weekend juga.

Ropeway di Chuzenji Lake, Nikko

Sebenarnya tahun ini saya sendiri ingin ke Kyoto juga, meihat cantiknya musim gugur di sana. Tetapi karena pengalaman di Nikko kemarin, saya sudah kapok. Kapok untuk pergi ke tempat yang sudah terkenal bagus, karena semua orang pasti ingin kesana pada saat musimnya.

Banyak yang bilang kalau orang Jepang terlalu berlebihan dalam merayakan setiap musim. Contohnya ya musim gugur ini. Semua orang ingin liat momiji. Pas musim semi, semuanya ingin hanami di bawah pohon sakura. Sedangkan kalau musim panas, orang berbondong ingin menonton pertunjukan kembang api.

Atau, bisa jadi juga karena penduduk Jepang yang sangat padat, terutama di Tokyo. Jadi setiap ada event, sepertinya semua penduduk kota tumpah ruah di sana. Padahal sebenarnya nggak juga. Tapi, hanya dengan sepersekian dari penduduk kota yang datang, sudah membuat tempat acara itu penuh sesak.

Tapi memang ya, setiap musim di Jepang ini memang cantik, dengan kekhasannya masing-masing. Sekarang ini musim gugur sudah mau habis. Pohon-pohon yang tadinya warna warni sudah mulai gundul Udara makin  dingin, dan saya jadi makin malas kemana-mana.

Selamat datang musim dingin. Sepertinya sudah saatnya untuk merencanakan ski trip ke Nagano J



Wednesday, August 21, 2013

Jalan-jalan musim panas ke Hokkaido


Ini blog sudah berbulan-bulan terbengkalai. Postingan terakhir tentang trip ke Nagano di musim dingin. Dan sekarang sudah musim panas aja.

Setelah dari Nagano sebenarnya saya dan hubby sempat jalan-jalan ke beberapa tempat selama musim semi. Terutama untuk melihat bunga sakura. Tapi ya begitulah, nggak sempat ditulisin. Sok sibuk :P

Musim panas ini saya dapat jatah liburan yang lumayan lama. Kesempatan ini kami gunakan untuk merencanakan liburan selama seminggu ke tempat yang agak jauh, yaitu ke Hokkaido, tempat liburan favorit saya di Jepang.

Karena bersamaan dengan liburan Obon, saatnya orang Jepang mudik ke kampung halaman, perjalanan ini jadi agak ribet persiapannya. Tiket kereta banyak yg sudah sold out. Hotel juga penuh. Untung hotel untuk empat hari pertama sudah saya cicil pesan via booking.com (sejauh ini jadi website favorit untuk pemesanan hotel). Sedangkan 3 hari berikutnya baru diputuskan beberapa hari sebelum berangkat. Ya terima nasib selama 2 malam menginap di pension sederhana yang harganya sudah mahal. Sedangkan untuk malam terakhir kami berdua menginap di camping ground, pengalaman yang seru banget. Detailnya akan saya ceritakan di postingan terpisah.

Secara umum perjalanan kami dari Tokyo, saya dan hubby berangkat ke Hokkaido menggunakan shinkansen (bullet train) menuju Shin-Aomori. Lalu menyeberang ke Hokkaido dengan kereta Super Hakucho yang melewati terowongan bawah laut Seikan Tunnel menuju Hakodate. Menginap semalam di Hakodate, trus lanjut ke Otaru, berikutnya ke Sapporo, Biei, dan terakhir Furano.

Untuk transportasi selama di Hokkaido kita berdua menggunakan kereta, yang jadwalnya sangat jarang dibandingkan dengan jadwal kereta di Tokyo. Sempat berencana menyewa mobil supaya perjalanan lebih nyaman dan fleksibel. Tapi gara2 hubby gagal ujian SIM seminggu sebelum berangkat. Jadi terpaksa deh pakai kereta.

Kereta lokal di Ikutora

Tapi sepertinya gagal ujian  SIM ini jadi berkah juga, karena kita jadi punya pengalaman menikmati bermacam kereta di Hokkaido. Mulai dari super express yang nyaman mirip shinkansen, sampai kereta lokal yang gerbongnya cuma satu, dan masinis kereta sekalian jadi petugas tiket. Stasiun kereta juga nggak semuanya ada petugasnya. Dan lokasinya pun ada ditengah persawahan.

Dari semua tempat yang kita kunjungi di Hokkaido kemaren, Biei dan Furano jadi tempat favorit saya. Otaru juga bagus banget sebagai kota pelabuhan dengan kanalnya yang cantik. Di Sapporo lebih untuk istirahat dan makan, karena hotelnya lebih murah di banding tempat lain di Hokkaido. Sedangkan di Biei kita keliling menggunakan sepeda sewaan menikmati pemandangan alam yg cantiknya kebangetan seperti di lukisan. Lalu yang terakhir di Furano, tepatnya di Minami Furano (Furano Selatan) saya dan hubby sempat mencoba rafting di sungai yang super jernih, lalu leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan di camping ground di pinggir danau Kanayama.

Biei and Furano: the most beautiful villages in Japan

 Perjalanan kembali ke Tokyo sempat jadi masalah karena bersamaan dengan arus balik liburan Obon. Jangankan kereta, kapal pun semua tiketnya sudah penuh. Dan akhirnya kami menumpang pesawat AirAsia Japan dari bandara Shin Chitose menuju Narita. Di bandara suasananya juga chaos dengan penumpang yang overload.

Seminggu di Hokkaido sebenernya belum puas. Kemaren tidak sempat ke Shiretoko di paling timur Hokkaido. Juga kita juga ingin mengunjungi Wakkanai, poin paling utara di Jepang, yang sedikit lagi nyebrang bisa sampai ke Rusia (kalau punya visa).

Monday, February 25, 2013

Liburan musim dingin ke Nagano



Sebenarnya kalau sudah memasuki musim dingin jadi malas kemana-mana, terutama buat manusia tropis seperti saya. Walaupun musim dingin di Tokyo jarang saljunya, tapi dinginnya nggak kalah sama wilayah Jepang lainnya. Plus anginnya yang wuzz wuzz! Sudah pakai heat tech dan jaket sekian lapis juga tetap menggigil. Dan saya jadi kebiasaan menyetok kairo di saku jaket (pemanas sekali pakai) atau ditempel di telapak kaki.

Jarangnya turun salju di Tokyo ini juga bikin saya agak sebal. Masa hanya kebagian dinginnya aja. Salju dong, salju! Biar pemandangannya kayak di film-film gitu. Hampir tiga bulan musim dingin, baru sekali salju turun di Tokyo di pertengahan Januari kemarin. Saljunya cukup parah dan membuat repot semua orang. Sepertinya warga Tokyo memang punya ‘love-hate relationship’ dengan salju. Sumringah kalau salju datang, tapi benci dengan efeknya yang bikin semua orang jadi susah ngapa-ngapain. Banyak kereta yang nggak jalan, mobil yang tergelincir, atau jalan kaki jadi gampang terpeleset.
Saat hujan salju, di jalan depan apato


Tapi sayangnya, waktu badai salju ini suami sedang tidak di Tokyo. Dia cuma bisa lihat sisa-sisa salju di pinggir jalan seminggu setelahnya. Agak kecewa sih, tapi ya nggak kecewa-kecewa banget karena kita sudah merencanakan perjalanan singkat ke Nagano, daerah pegunungan sekitar 220 km ke utara, dimana kita bisa liat salju sepuasnya di sana.

Tujuan utama kita ke Nagano adalah melihat monyet salju yang suka berendam di kolam air panas. Dulu pernah baca artikelnya di majalah National Geographic, lupa entah edisi kapan. Di seluruh dunia, hanya monyet-monyet di Jepang yang suka berendam di kolam air panas (onsen). Sepertinya didukung oleh kondisi geografis Jepang punya banyak gunung api dan sumber air panas alami. Mungkin nenek moyangnya monyet disini pernah yang coba berendam, keenakan, dan jadi keterusan sampai sekarang.



Monyet berendam di Jigokudani Yaen-koen

Lokasi monyet onsen ini namanya Jigokudani Yaen-koen, atau Jigokudani Monkey Park. Jigokudani sendiri artinya lembah neraka, karena situasinya menurut orang-orang sini seperti neraka: curam dan banyak sumber air panasnya. Untuk mencapainya, dari stasiun Tokyo kita berdua naik Asama Shinkansen menuju Nagano (7770 yen, perjalanan 100 menit). Tiket shinkansen kita beli on the spot, tanpa reserve seat. Untuk menjamin dapat seat yang nyaman, kita udah antri di line gerbong unreserved sebelum keretanya datang. Untung juga kereta ini stasiun awalnya di Tokyo, jadi kemungkinan untuk dapat tempat duduk lebih besar. Sedangkan kalau saja kita naik dari stasiun Ueno, kayaknya tempat duduk sudah penuh. Bahkan di stasiun pemberhentian berikutnya seperti Takasaki, masih banyak penumpang yang naik dan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk lagi.

Sampai di stasiun Nagano, kita ganti kereta ekspres Nagano Dentetsu menuju Yudanaka (1130 yen, 74 menit). Kereta ekspres ini masinisnya tidak ada di depan atau dibelakang, tapi di bagian tengah kereta. Sedangkan dibagian depan dan belakang jendelanya didesain agar penumpang dapat menikmati pemandangan secara maksimal. Sepertinya kereta ini ditujukan untuk turis yang mengunjungi Yudanaka yang punya banyak objek wisata. Tidak hanya monkey park, tapi juga Yamanouchi-machi dan Shibu onsen yang terkenal dengan wisata onsen dari zaman dulu. Dan disini juga ada ski resort terbesar se-Jepang, yaitu Shiga Kogen yang pernah digunakan dalam olimpiade musim dingin tahun 1998.

Poster olimpiade musim dingin 1998, stasiun Nagano

Begitu sampai di stasiun Yudanaka kita berdua jalan kaki menuju ryokan (hotel tradisional Jepang), yaitu Shimaya ryokan yang jaraknya sekitar 400 meter dari stasiun. Ryokan ini dipilih karena harganya yang relatif murah dibanding ryokan sejenis, dan dapat review yang bagus di tripadvisor (14000 yen, tatami room untuk 2 orang dengan private bathroom). Pemiliknya Yumoto-san mengurus sendiri ryokan ini bersama istrinya. Bapak ini selalu sibuk kemana-mana mengantar tamu, walaupun tidak diminta oleh tamu tersebut. Tiap ada yang terlihat mau keluar dari ryokan, langsung ditanya, “Where are you going? I will take you!” Bahasa Inggrisnya lumayan lancar untuk standar orang Jepang.

Shimaya ryokan, Japanese style sroom

Setelah menaruh tas, saya dan suami langsung menuju monkey park, tentu saja diantar oleh Yumoto-san. Bapak ini sudah seperti sopir pribadi untuk setiap tamu yang menginap di ryokan nya. Seru sih, walaupun kadang kita jadi terburu-buru karena tugas dia selanjutnya (mengantar tamu lain tentunya) sudah menunggu.

Ternyata lokasi monkey park cukup jauh dari ryokan. Dari stasiun Yudanaka sebenarnya ada bus, tetapi jadwalnya hanya 1 atau 2 bus tiap jam. Untung banget deh dianterin sama Yumoto-san. Kita diantar sampai gerbang monkey park, dan melanjutkan perjalan dengan jalan kaki sejauh 1,6 km. Jalannya berupa jalan setapak melewati hutan pinus. Di kiri kanan penuh salju. Kebetulan hari itu salju turun walaupun tidak deras.

Di depan gerbang menuju monkey park


Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi kolam onsen yang diisi oleh monyet-monyet berendam. Sesampainya di lokasi, orang-orang sudah banyak yang berdiri mengelilingi kolam air panas yang penuh dengan para monyet yang berendam. Pengunjung sibuk memotret para monyet. Anehnya, monyet-monyet ini seperti tidak peduli dengan banyaknya manusia. Mereka cuek dan lanjut berendam dengan nikmatnya. Mau disorot sedekat apapun dengan kamera mereka tidak peduli.

Monkey onsen dan fotografer


Karena cuaca yang super duper dingin, setelah sekitar 45 menit, saya protes supaya suami menyudahi sesi pemotretannya. Kita balik jalan kaki ke gerbang untuk makan tempura soba. Nikmat banget rasanya lagi kedinginan begini makan tempura soba yang hangat. Lalu tak lama Yumoto-san menjemput dengan mobilnya untuk kembali ke ryokan.

Ke Yudanaka kurang sreg rasanya kalau tidak mencoba berendam di salah satu kolam air panasnya, atau onsen. Disini onsen tidak hanya untuk monyet, tapi juga untuk manusia. Konon sejak zaman samurai dulu, daerah ini sudah terkenal jadi tujuan wisata onsen. Tempat onsen yang ada sekarang ini banyak diantaranya yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Oya, berendam di onsen ala jepang semua pengunjung wajib bugil 100%. Berhubung suami ogah berbugil ria dengan orang asing, Yumoto-san merekomendasikan tempat onsen outdoor yang punya kolam privat. Dan lagi-lagi diantar sendiri oleh si Bapak. Sungguh pengalaman onsen ini tiada duanya deh. Kolamnya outdoor, di tempat tinggi seperti diatas tebing, jadi kita bisa menikmati pemandangan pedesaan ke bawah sambil berendam dan kena hujan salju. Kita pesan onsen ini selama 50 menit seharga 2500 yen buat berdua. Tidak begitu mahal juga, karena untuk onsen umum, perorang bayar 1000 yen. Pada saat di jemput oleh Yumoto-san, kita minta diturunkan di warung sushi tak jauh dari ryokan untuk makan malam.

Private outdoor onsen

Hari kedua di Yudanaka. Dimulai dengan sarapan ala Jepang di restoran ryokan. Sarapan ini tidak termasuk di biaya kamar, jadi perorang kita harus bayar 1200 yen. Atau bisa lebih murah kalau pesan western breakfast dengan menu roti-rotian. Sarapan ala Jepang memang khas banget. Menunya beragam dengan porsi kecil-kecil. Mulai dari nasi, ikan, sup miso, acar, buah, dll. Kenyang banget.

Selanjutnya kita berdua tidak punya rencana khusus. Hanya mau keliling menikmati pemandangan kota. Yumoto-san mengantar kami ke Shibu-onsen, tak jauh dari ryokan, dimana juga banyak terdapat onsen. Disini suasanya lebih eksotik. Ada puluhan onsen yang bersebelahan satu sama lain, dihubungkan oleh jalan-jalan kecil. Tamu yang menginap di daerah ini umumnya suka onsen hopping, atau berendam dari satu onsen ke onsen lainnya. Saya dan suami hanya berkeliling, mengambil foto, dan mampir di beberapa toko yang menjual kue-kue manis ala jepang atau wagashi.

Shibu-onsen


Dari shibu onsen, kita mampir ke kuil yang ada patung besarnya. Entah ini patung apa, sepertinya kannon atau di Indonesia dikenal dengan nama dewi kwan im. Setelah foto-foto dan membuat kehebohan dengan membunyikan lonceng besar disana, kita berdua balik ke ryokan dengan jalan kaki.

Liburan singkat yang mengesankan. Mudah-mudahan bisa balik kesini saat musim gugur nanti untuk menikmati musim panen apel, karena waktu keliling kota dan sepanjang perjalanan kita banyak sekali melihat perkebunan apel. Dan tentu saja mencoba lagi private onsen outdoor yang sangat nikmat itu.

Ini video perjalanan ke Nagano kemarin, yang diupload di Youtube.








Thursday, December 13, 2012

Warna-warni daun di musim gugur



Musim gugur di Jepang adalah kesempatan menikmati pemandangan perubahan warna daun (koyo), dari hijau jadi kuning atau merah sebelum akhirnya berguguran. Tahun ini musim gugur datang terlambat sekitar 2 minggu dari biasanya. Alasannya kenapa, saya nggak tau jelas. Mungkin ada dibahas di tv, tapi maklumlah 8 bulan tinggal di Tokyo saya masih saja bisu tuli, nggak bisa ngomong dan nggak ngerti omongan orang-orang disini.

Dua tanaman yang paling mencolok perubahan warna daunnya adalah pohon ginko dan momiji. Di seluruh Jepang banyak tempat yang bisa jadi spot cantik untuk menikmati koyo, yang umumnya didominasi oleh kedua tanaman ini. Info tempat yang direkomendasikan untuk menikmati koyo bisa dilihat disini.

Daun momiji yang mulai memerah

Pengen banget bisa mengunjungi semua tempat yang ditulis di link itu. Yah dicicil deh satu persatu. Mulai dari yang dekat-dekat dulu. Tahun ini saya cukup puas bisa menikmati koyo di 3 dari  koyo spot yang ditulis disana.

1. Oze national Park

Trip ke Oze ini masih bersama teman-teman yang sebulan sebelumnya bareng ke Hokkaido, ditambah beberapa orang lainnya. Lokasinya di Gunma, sekitar 150 km sebelah utara Tokyo. Karena cukup jauh, kami menyewa mobil dari Tokyo supaya bisa lebih leluasa mengatur waktu perjalanan.

Oze terletak didataran tinggi (1400 mdpl), jadi koyo disini bisa dilihat lebih awal dibanding di Tokyo. Waktu kesana di akhir Oktober 2012, warna daun sudah berubah dan lagi cantik-cantiknya kuning dan merah. Kalau lebih telat dari itu, mungkin sebagian besar daun sudah mencoklat dan gugur.

Mobil kami parkir di Tokura, kemudian lanjut ke Hatomachitoge dengan menumpang bus yang khusus untuk pengunjung yang ingin masuk ke Oze National Park. Mau menyetir sendiri sampai ke pintu masuk national juga bisa, tapi kondisi jalan cukup berbahaya dengan banyak belokan tajam dan jurang terjal.

Petualangan di national park dimulai dengan menyusuri hiking trail yang disediakan dua jalur, supaya pengujung yang beda arah (masuk dan keluar) bisa jalan dengan nyaman tanpa bertabrakan. 


Jalur hiking di Oze National Park

Kami berjalan sekitar 1 jam untuk sampai ke Ozegahara Marshland. Tanah rawa ini selalu cantik di setiap musim. Di musim gugur, tanaman di rawa berwarna cokelat, dan dari kejauhan dapat dilihat warna warni pohon dengan latar belakang gunung Hiuchigatake. Disini disediakan beberapa tempat untuk duduk-duduk menikmati pemandangan dan berfoto.

Ozegahara Marshland di Oze National Park

2. Taman Rikugien, Komagome Tokyo.

Menikmati koyo berikutnya saya sudah ditemani suami yang mulai ikut tinggal di Tokyo. Yess, makin seru dan romantis :D. Sekalian kesempatan mengunjungi tempat-tempat cantik di Tokyo. Kalau sendirian agak malas yaa. Mau ngajak teman, kadang minatnya nggak sama.

Dimulai dengan mengunjungi taman yang dekat dari apato yaitu taman Rikugien, dan ternyata taman ini ada di list koyo spot tercantik di website japan-guide. Lokasinya cuma 2 stasiun dari apato. Taman Rikugien termasuk taman tercantik se-Jepang, selain Koishikawa Korakuen (koyo spot nomer 3 di postingan ini) yang juga deket banget dari rumah. Hohoho, senangnya tinggal dekat dengan taman-taman cantik.

Menurut sejarahnya taman Rikugien ini dibuat oleh daimyo (pemimpin jaman dulu, posisi di bawah shogun) yang tinggal disana. Awalnya lansekapnya hanya berupa tanah datar, lalu kemudian digali-timbun (cut and fill) sampai terbentuk taman yang berbukit dan ada kolamnya. Tanaman disini diatur dengan style tradisional jepang.

Taman Rikugien

Khusus selama musim gugur, di Rikugien ada light up (ライトアプ) begitu cuaca jadi gelap. Pohon-pohon yang ada di sana di terangi dengan lampu sorot dari bawah. Cantik sih, tapi butuh semangat ekstra karena suhu yang makin dingin di malam hari.

Light up taman Rikugien

3. Taman Koishikawa Korakuen

Salah satu taman tercantik se-Jepang juga, dan hanya 10 menit sepedaan dari apato. Cinta banget deh sama taman ini. Lokasinya dekat dengan Tokyo Dome (stadion baseball) yang mencolok dengan atap putih bundar dan besar.

Pemandangannya kurang lebih sama dengan Rikugien, ada kolam dan lahan yang berbukit-bukit. Dibangun di zaman edo oleh kerabat shogun Tokugawa. Dengan banyaknya momiji, taman ini memang paling cantik disaat musim gugur. Tetapi sakura juga lumayan banyak, jadi waktu musim semi nanti harus kesini lagi untuk menikmati mekarnya sakura.

Taman Koishikawa Korakuen

Daun momiji gugur berserakan di walking trail

4. Kampus University of Tokyo (Todai)

Kalau yang ini sih bonus, bisa dinikmati setiap hari selama pohon gingko yang banyak ditanam di lingkungan kampus sedang berubah warna jadi kuning. Kayaknya hampir tiap hari saya berhenti sebentar di ginko avenue dekat gerbang utama untuk memotret menggunakan kamera iphone. Kalau suami ikut makan siang bareng di kampus, dia sempetin bawa kamera juga, dan motret sampai memori cardnya penuh.

Pohon ginko yang menguning di kampus University of Tokyo

Dibanding musim semi, menurut saya kampus Todai lebih cantik di musim gugur karena jumlah pohon ginko lebih banyak dibanding sakura. Mungkin karena itu logo Todai adalah dua helai daun ginko.